Hasil imbang 1-1 saat menghadapi Sassuolo pada akhir pekan kemarin ternyata meninggalkan cerita pahit di internal klub. Pemilik AC Milan, Gerry Cardinale, dikabarkan merasa sangat kecewa setelah menyaksikan langsung jalannya pertandingan lanjutan Serie A tersebut di Mapei Stadium. Tambahan satu angka ini tentu bukan target yang dicanangkan manajemen setelah melihat investasi besar yang digelontorkan klub pada bursa transfer musim panas lalu.

Pertandingan sebenarnya sempat berjalan sesuai rencana ketika Adrien Rabiot sukses memecah kebuntuan dan membawa Rossoneri unggul lebih dulu saat pertandingan memasuki jam kedua. Namun, keunggulan tersebut sirna seketika akibat kelengahan lini belakang, di mana bek tuan rumah Cas Odenthal mampu mencetak gol balasan hanya selang beberapa menit kemudian. Kegagalan mempertahankan keunggulan inilah yang memicu kritik tajam dari media Italia, termasuk sorotan terhadap buruknya manajemen permainan tim asuhan pelatih Ruben Amorim di atas lapangan.

Dilansir dari Football Italia, La Gazzetta dello Sport menyoroti setidaknya empat masalah krusial yang harus segera dibenahi oleh sang juru taktik jika ingin menyelamatkan musim ini. Masalah pertama berkaitan dengan ketidakseimbangan taktik dan hilangnya organisasi permainan tim langsung setelah mereka mencetak gol. Skuad Milan terlihat panik dan memberikan tiga peluang emas bagi lawan dalam kurun waktu lima menit saja pasca gol pembuka, sebuah catatan rapuh bagi tim yang mengusung ambisi juara.

Isu kedua yang tidak kalah disorot adalah minimnya jiwa kepemimpinan serta pengalaman bertanding di level tertinggi Serie A dalam skuad saat ini. Ketika membutuhkan tambahan gol penentu kemenangan di ujung laga, staf pelatih terpaksa memasukkan pemain-pemain muda minim pengalaman seperti Alphadjo Cisse dan Omari Hutchinson, meskipun mereka juga sempat menurunkan gelandang veteran Luka Modric dari bangku cadangan. Situasi ini memunculkan keraguan mendalam mengenai kedalaman mentalitas skuad dalam mengarungi tekanan kompetisi yang begitu ketat.

Kendala ketiga yang menjadi pekerjaan rumah besar adalah tumpulnya lini serang dan minimnya percobaan tembakan ke arah gawang lawan. Berdasarkan statistik sejauh musim ini, peraih Scudetto tersebut justru tertahan di papan bawah dalam urusan melepaskan tembakan jarak jauh maupun total percobaan ke gawang. Terakhir, identitas permainan di bawah komando pelatih utama masih dipertanyakan karena seringnya melakukan rotasi formasi drastis tanpa kejelasan siapa komposisi starting XI terbaik yang sebenarnya.