Menutup bursa transfer musim panas lalu dengan hanya mengandalkan Thierno Barry sebagai satu-satunya penyerang murni senior tentu sempat memancing tanda tanya besar dari publik Goodison Park. Keputusan klub untuk memercayakan lini serang Everton kepada juru gedor muda yang masih berkembang terasa seperti pertaruhan berisiko tinggi bagi tim yang dalam beberapa musim terakhir akrab dengan ancaman degradasi. Wajar jika para pendukung setia sempat merasa cemas melihat sang penyerang kini justru memimpin daftar pemain dengan peluang emas terbuang paling banyak di kompetisi.

Jika dilihat sekilas melalui permukaan statistik, catatan tersebut tentu tampak mengkhawatirkan dan mengonfirmasi bahwa penyerang asal Prancis itu masih mentah untuk ukuran penyerang level atas. Namun, di balik angka minor tersebut, tersimpan secercah harapan besar yang patut dinantikan oleh pendukung setia yang sering memadati stadion. Dilansir dari FourFourTwo, jumlah peluang matang yang disia-siakan Barry mencapai angka sepuluh, terpaut jauh meninggalkan para pesaing lainnya di liga.

Perbedaan kualitas finishing antara penyerang kelas dunia dan pemain muda terlihat jelas dari akurasi tembakan mereka musim ini. Sebagai perbandingan, bomber haus gol Erling Haaland mencatatkan rasio konversi tembakan sebesar 27,3 persen, yang berarti tepat dua kali lipat lebih tajam daripada persentase milik penyerang muda Everton tersebut. Kendati demikian, konteks dari statistik ini jauh lebih penting ketimbang sekadar menghakimi kegagalannya di depan gawang lawan pada setiap akhir pekan pertandingan.

Berkaca dari pengalaman mesin gol Manchester City musim lalu, bomber top sekalipun tetap rutin melewatkan peluang matang karena penyelesaian akhir adalah aspek yang sangat fluktuatif. Inti dari permainan penyerang modern adalah ketidakmampuan mencetak gol tidak akan terjadi jika sang pemain tidak memiliki pergerakan, antisipasi, serta insting posisi yang luar biasa untuk berada di area berbahaya. Barry telah membuktikan bahwa dirinya sama sekali tidak pernah ‘menghilang’ dalam jalannya sebuah pertandingan kompetitif.

Konsistensi pergerakan tanpa bola serta kemampuan menarik bek lawan membuat sang ujung tombak selalu mampu mencatatkan angka Expected Goals atau xG yang sangat tinggi di lini depan. Skuad asuhan pelatih kepala yang kini belum terkalahkan dalam enam laga awal tentu sangat menantikan momen ketika ketajamannya mulai meledak secara alami di lapangan hijau. Ketika sentuhan akhirnya mulai membaik, keran gol diyakini bakal segera mengalir deras dan membawa dampak masif bagi perjalanan klub di liga musim ini.