Pembalap Yamaha Alex Rins melontarkan harapan besar agar para petugas lintasan atau marshal di Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 mau melayangkan permintaan maaf terbuka. Akhir pekan lalu di Sirkuit Mandalika, alih-alih dikenang karena aksi gemilang di atas lintasan, sang rider asal Spanyol justru terlibat friksi panas yang berujung pada ancaman pembunuhan dari oknum tidak bertanggung jawab.

Ketegangan bermula pada sesi hari pertama akhir pekan lalu ketika Rins mengalami kecelakaan tunggal dan bergegas ingin kembali ke garasi demi melanjutkan sesi latihan. Namun situasi memanas di pinggir lintasan ketika seorang marshal yang mengendarai skuter enggan memberikan tumpangan, sementara dua petugas lainnya justru melayangkan protes keras yang menyulut emosi sang pembalap hingga berbuah gestur acungan jari tengah.

Buntut dari insiden spontan tersebut langsung membakar media sosial dan membawa tekanan mental luar biasa bagi Rins yang bahkan sampai menerima teror ancaman pembunuhan. Sadar situasi sempat berada di ambang batas ekstrim, ia sebelumnya telah lebih dulu menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada pihak marshal demi meredam suasana.

Kendati demikian, rasa keadilan tampaknya masih menuntut keseimbangan dari sudut pandang pembalap berusia paruh baya tersebut. Dilansir dari Crash, ia menegaskan bahwa situasi kacau yang terjadi di Lombok kemarin seharusnya menjadi evaluasi bersama agar kedua belah pihak bisa saling instrospeksi diri secara jernih.

Di sisi lain, meski sempat dipanggil menghadap langsung oleh steward FIM guna memberikan klarifikasi atas insiden jari tengah di hari Jumat itu, untungnya tidak ada sanksi penalti berat yang dijatuhkan kepada sang pembalap. Kini, fokus utama Rins adalah melupakan drama tribun tersebut dan kembali menatap persaingan ketat di sisa kalender balap musim ini.