Musim 2026-27 menghadirkan petualangan baru yang luar biasa bagi Como di kancah Eropa. Di bawah arahan pelatih muda berbakat Cesc Fabregas, klub ini mencatatkan sejarah manis dengan kemenangan telak 4-1 atas RB Leipzig pada debut fase grup Champions League September lalu. Namun, perjalanan tidak selalu mulus, terutama setelah performa di Serie A sedikit goyah usai kekalahan dari Frosinone dan hasil imbang tanpa gol kontra Roma akhir pekan kemarin.

Ujian berikutnya kini sudah menanti di depan mata. Como harus bersiap melakoni laga tandang krusial menghadapi wakil Belanda, Feyenoord, pada Rabu malam. Duel ini juga mempertemukan kembali Fabregas dengan mantan rival lamanya di lapangan hijau, Giovanni van Bronckhorst, yang kini sukses meniti karier sebagai juru taktik. Dalam sesi jumpa pers, Fabregas mengenang masa lalu mereka saat bersua di final Liga Champions dan Piala Dunia, sambil memberikan pujian tinggi kepada kapasitas kepelatihan Van Bronckhorst.

Ketika disinggung mengenai karier masa lalunya, sang pelatih tak menampik rasa penyesalannya karena belum pernah merengkuh trofi Si Kuping Lebar sebagai pemain. Kendati demikian, ia menegaskan bahwa medali juara Piala Dunia miliknya tetap menjadi pencapaian puncak yang tidak akan ia tukar dengan apapun. Fokus utamanya saat ini telah sepenuhnya beralih dari memori masa lalu ke ambisi besar bersama skuad asuhannya di pinggir lapangan.

Sorotan tajam juga sempat mengarah pada performa bintang muda Nico Paz yang tampil tajam bersama Timnas Argentina di jeda internasional, tetapi masih mandul di level klub dalam beberapa laga terakhir Serie A. Menanggapi hal tersebut, Fabregas sama sekali tidak merasa khawatir. Ia membela sang pemain dengan menyebutkan bahwa kontribusi penyerang muda itu tetap krusial di atas lapangan, terlepas dari catatan gol maupun assist yang masih minim di awal musim ini.

Memasuki jadwal yang semakin padat dan tuntutan rotasi tim yang belum pernah ia hadapi sebelumnya, sang pelatih menekankan pentingnya menjaga mentalitas. Dilansir dari Football Italia, ia mengingatkan para pemainnya bahwa mimpi besar tampil di panggung Eropa harus segera diwujudkan menjadi realitas yang konsisten. Dengan perjalanan musim yang masih panjang, manajemen skuad dan ketenangan mental akan menjadi kunci utama bagi klub untuk terus bersaing di level tertinggi.