Kekalahan telak 1-4 dari Como di ajang Manchester United memicu ketegangan internal di ruang ganti Setan Merah. Sang kapten, Bruno Fernandes, secara terbuka mempertanyakan pendekatan taktik yang diterapkan oleh sang pelatih, Michael Carrick. Menurut Fernandes, keputusan staf pelatih untuk tidak melakukan pressing secara man-to-man memberikan ruang terlalu besar bagi lawan, yang justru membuat timnya kelelahan dan frustrasi di atas lapangan.

Sejak ditunjuk sebagai pelatih Manchester United pada Januari lalu, Carrick memang konsisten mengandalkan bentuk pertahanan zonal 4-2-4 atau 4-4-2. Strategi ini dirancang untuk membiarkan pemain bertahan lawan menguasai bola di area belakang, sembari menunggu momen tepat untuk melakukan jebakan pressing dan melancarkan serangan balik kilat. Musim lalu, taktik ini sempat mengejutkan sejumlah rival di Premier League, termasuk kemenangan impresif atas Arsenal berkat gol cepat dari situasi transisi.

Namun, memasuki musim baru, formula 4-2-4 tersebut mulai terbaca dan kehilangan taji. Tim-tim lawan kini lebih mudah menciptakan keunggulan jumlah pemain di area pinggir lapangan untuk membongkar blok pertahanan United. Masalah serupa juga terlihat saat mereka takluk dari Atletico Madrid, di mana pergerakan lini belakang lawan sukses menarik keluar para winger United dan menciptakan celah besar yang gagal ditutup dengan sempurna oleh barisan pertahanan.

Di sisi lain, Michael Carrick memiliki argumen tersendiri untuk mempertahankan strateginya. Pelatih asal Inggris itu berpendapat bahwa timnya sempat mencoba pendekatan man-to-man di babak kedua melawan Como, namun justru berujung pada kebobolan akibat hilangnya duel individu di lini tengah. Carrick menegaskan bahwa sistem apa pun tidak akan berjalan jika para pemain gagal menunjukkan intensitas berlari yang cukup untuk naik maupun turun membantu pertahanan.

Perbedaan pandangan yang mencolok antara sang kapten dan juru taktik ini mengindikasikan adanya celah komunikasi yang harus segera diselesaikan. Fernandes secara blak-blakan menuntut keberanian lebih untuk melakukan pressing tinggi guna membuat lawan tidak nyaman. Jika Setan Merah ingin kembali bersaing di papan atas Eropa, solusi terbaik tampaknya berada di titik tengah antara kehati-hatian taktik Carrick dan agresivitas yang didambakan di lapangan.