Ada sesuatu yang kontras sekaligus menakutkan ketika melihat laju Arsenal di awal musim ini. Di satu sisi, mereka kerap tampil tanpa kilau memukau di lini depan, namun di sisi lain, pasukan Meriam London menjelma menjadi tembok yang mustahil runtuh. Kemenangan tipis 1-0 atas Hull City di Emirates Stadium menegaskan tren tersebut, di mana gol tunggal penentu kemenangan lahir dari kegigihan kapten Martin Ødegaard memanfaatkan bola muntah di menit ke-72.

Hasil ini memperpanjang catatan impresif anak asuh Mikel Arteta dengan sembilan kemenangan dari sepuluh pertandingan awal, menyamai start terbaik sepanjang sejarah klub di ajang Premier League. Keunggulan enam poin berhasil diamankan di puncak klasemen sementara. Pertahanan solid yang dikawal ketat lini belakang membuat mereka mencatatkan tujuh clean sheet dari sepuluh laga, sebuah rekor disiplin yang belum tertandingi di tanah Inggris saat ini.

Meski demikian, bayang-bayang kegagalan mendatangkan penyerang top pada bursa transfer musim panas lalu masih menyisakan perdebatan. Sebagian besar kemenangan Meriam London musim ini diraih dengan margin tipis satu gol. Arteta sendiri tidak menampik bahwa timnya kerap terlalu rumit dalam membongkar pertahanan berlapis lawan, sering kali membuang peluang matang karena mencari gol yang terlalu sempurna di kotak penalti.

Pertandingan ini juga diwarnai insiden VAR yang cukup membingungkan ketika wasit menganulir potensi penalti bagi Meriam London setelah Kai Havertz dinilai sudah berada dalam posisi offside sebelum ditarik oleh bek lawan. Keputusan langka lewat pengeras suara stadion itu sempat memicu perdebatan di pinggir lapangan. Kendati demikian, Arteta memilih fokus pada evaluasi jeda internasional untuk membenahi efisiensi lini serang timnya.

Dilansir dari ESPN FC, ancaman nyata bagi para rival kini semakin jelas: jika Arsenal mampu memadukan ketajaman menyerang dengan tembok kokoh di lini belakang, mereka bukan cuma sekadar kandidat juara, melainkan kekuatan yang nyaris mustahil dihentikan musim ini.