Sepuluh pekan terakhir menjadi perjalanan yang begitu intens bagi Eva Olid sejak ia secara mengejutkan ditunjuk sebagai manajer Manchester United wanita. Datang hanya sebulan sebelum musim Women's Super League bergulir menggantikan Marc Skinner, hari-harinya praktis hanya dihabiskan antara tempat latihan Carrington dan rumah. Dilansir dari BBC Sport, pelatih berusia 41 tahun ini mengaku belum punya banyak waktu untuk menikmati sudut kota Manchester.

Masa adaptasi Olid sama sekali tidak berjalan mulus di awal kepemimpinannya. Mewarisi skuad yang tipis serta kebijakan klub yang lebih memprioritaskan akademi ketimbang belanja pemain jor-joran, ia langsung dihadapkan pada ujian berat. Setelah takluk 1-2 dari London City Lionesses, Setan Merah babak belur di kandang sendiri dengan kekalahan memalukan 0-5 dari Chelsea di depan pendukungnya sendiri.

Badai awal tersebut memaksa ruang ganti United mengadakan evaluasi kejujuran yang dipimpin langsung oleh sang juru taktik. Olid yang semasa aktif bermain dikenal sebagai gelandang bertahan lugas, tidak lari dari tanggung jawab dan memilih merombak pendekatan tim. Percakapan terbuka itu terbukti menjadi titik balik krusial dalam menyatukan kembali visi skuad di atas lapangan.

Hasilnya mulai terlihat nyata ketika mereka mampu menahan imbang Arsenal 1-1 di Stadion Emirates. Pertandingan tersebut menjadi batu loncatan bagi catatan lima laga tak terkalahkan beruntun, yang sekaligus mendongkrak posisi Manchester United keluar dari papan bawah menuju peringkat ketujuh klasemen sementara WSL.

Di sela-sela kesibukannya meracik taktik penguasaan bola yang mengandalkan aliran dari kiper, Olid juga mulai menikmati kesehariannya di Inggris. Meski sempat berkelakar soal belum menemukan bar tapas yang seratus persen autentik seperti di Spanyol, fokus utamanya tetap membawa Manchester United menemukan konsistensi kemenangan di jalur juara.