Musim kompetisi Women's Super League baru berjalan sebulan, namun Arsenal sudah harus menghadapi mimpi buruk yang tidak terduga. Tertahan di posisi ke-10 klasemen sementara dan terpaut sepuluh angka dari pemuncak takhta, skuad Meriam London mengalami start terburuk mereka sejak 2014 silam. Situasi ini langsung memicu perdebatan sengit di kalangan suporter mengenai siapa pihak yang paling pantas bertanggung jawab atas kemerosotan performa tim secara drastis.

Pelatih kepala Renee Slegers berada di garis terdepan dalam menerima segala kritik tajam setelah serangkaian hasil minor. Slegers dinilai terlalu kaku dan loyal kepada pemain-pemain langganan starter meski performa mereka sedang menurun di lapangan. Selain itu, keputusan pergantian pemain yang kerap terlambat serta minimnya rotasi untuk rekrutan baru membuat kedalaman skuad Arsenal justru berubah menjadi bumerang yang melemahkan stabilitas tim.

Kendati demikian, beban kesalahan tidak bisa sepenuhnya ditimpakan kepada sang juru taktik asal Belanda tersebut. Para pemain di atas lapangan juga memegang tanggung jawab besar atas buruknya penyelesaian akhir dan rapuhnya lini pertahanan. Dilansir dari ESPN FC, statistik menunjukkan bahwa Arsenal sempat hanya mampu mencetak dua gol dari total 78 percobaan tembakan ke gawang sebelum kekalahan pahit dari Manchester City, memperlihatkan krisis ketajaman yang akut.

Akar permasalahan klub ternyata sudah mengakar jauh sebelum era kepelatihan saat ini, melibatkan struktur manajemen senior yang dinilai lambat beradaptasi. Bandingkan dengan pencapaian rival sekota mereka, Chelsea, yang konsisten mendominasi berkat sinergi erat antara departemen rekrutmen dan jajaran pelatih. Evaluasi menyeluruh kini menjadi harga mati bagi manajemen klub agar siklus pemecatan pelatih tanpa pembenahan sistem tidak terus berulang di masa depan.