Badai besar tengah menghantam ruang ganti Manchester United setelah malam paling memalukan di kancah Eropa. Skuad Setan Merah harus menanggung malu yang luar biasa usai dihantam dengan skor telak 4-1 oleh Como dalam lanjutan Champions League. Kekalahan telak ini langsung memicu ketegangan terbuka di internal tim, melibatkan kapten tim dan sang juru taktik.
Selepas peluit panjang berbunyi, gelandang kreatif asal Portugal, Bruno Fernandes, secara terbuka melayangkan kritik tajam terhadap keputusan taktik pelatih kepala Michael Carrick. Dikenal sebagai pemain yang sangat memahami detail taktik di atas lapangan, Fernandes blak-blakan menyoroti instruksi staf pelatih yang memilih untuk tidak melakukan pressing secara ketat kepada lawan.
"Itu adalah keputusan dari staf untuk tidak melakukan pressing secara man-to-man dan terkadang membiarkan ruang di belakang serta mencoba merebut bola. Namun, terkadang ketika Anda memberikan ruang kepada tim-tim seperti ini, mereka justru mendapatkan kepercayaan diri," ungkap Fernandes kepada TNT Sports dengan nada geram, mengkritik celah taktis yang dieksploitasi oleh Como.
Ketika ditanya secara langsung apakah Carrick telah salah menerapkan taktik dalam laga krusial tersebut, sang kapten tidak menutup-nutupi kekecewaannya. Ia menegaskan bahwa urusan pemilihan strategi sepenuhnya berada di tangan jajaran pelatih. Menurutnya, Setan Merah seharusnya tampil lebih berani dalam memberikan tekanan tinggi kepada lawan alih-alih bermain bertahan dan membiarkan lawan menguasai jalannya pertandingan.
Mendengar rentetan kritik pedas yang dilontarkan oleh kapten timnya di ruang publik, Carrick memberikan respons yang tidak kalah dingin dalam sesi konferensi pers pasca-pertandingan. Pelatih berusia Inggris itu berdalih bahwa sistem atau taktik apa pun tidak akan berjalan efektif di atas lapangan jika para pemain tidak memiliki etos kerja yang mendasar, seperti berlari mengejar bola baik saat menyerang maupun bertahan.
Situasi pelik ini praktis membuat posisi Carrick kini berada di ujung tanduk dan langsung memicu pertanyaan seputar masa depannya di kursi kepelatihan. Terlebih lagi, gestur permohonan maaf yang ia tunjukkan kepada 700 suporter setia yang hadir di stadion mengingatkan publik pada momen akhir era Ole Gunnar Solskjaer, memperkuat tensi panas di internal klub.
KOMENTAR ()
Kamu harus login untuk ikut berdiskusi.
Login Sekarang