Mimpi buruk kembali menghampiri Celtic di pentas Eropa. Unggul agregat 4-0, tim asal Glasgow itu justru tumbang secara memalukan saat menghadapi LASK di babak play-off Liga Champions. Kekalahan telak 1-5 di markas lawan membuat mereka harus puas turun kasta ke Liga Europa, dan menyisakan luka yang dalam, terutama bagi sang kapten, Callum McGregor.
McGregor, yang sudah membela Celtic selama hampir satu dekade, jarang terlihat semurka ini. Setelah laga, ia melontarkan kritik pedas kepada rekan-rekannya sendiri. Ia menyebut mereka "pasif" dan "takut", sebuah vonis yang lebih tajam dari kritik media mana pun. "Sekarang kita lihat mentalitas seperti apa yang kami miliki," ujarnya dengan nada dingin, sebuah tamparan keras bagi seluruh skuad.
Padahal, seminggu sebelumnya, Celtic tampil gemilang dengan kemenangan 4-0 di leg pertama. Semua memuji permainan menyerang mereka. Namun, di Linz, segalanya berubah 180 derajat. Gol pembuka McGregor sempat membuat agregat menjadi 5-0, tetapi kemudian pertahanan Celtic seperti kehilangan akal. LASK mencetak lima gol beruntun, membalikkan keadaan secara dramatis.
Kekalahan ini mengungkap kelemahan mendasar yang sudah lama dikeluhkan para penggemar. Celtic tidak punya bek kiri cadangan yang mumpuni setelah kepergian Kieran Tierney. Mereka juga kekurangan sosok fisik dominan di lini tengah, pemain yang bisa melindungi bola dan tidak mudah diintimidasi. Manajer Martin O'Neill mengakui timnya gagal total, dan ia menerima tanggung jawab penuh. "Kami jauh dari kata sempurna," katanya pasrah.
Perjalanan Celtic di Liga Champions memang selalu diwarnai kegagalan. Sebut saja kekalahan telak 7-1 dari Borussia Dortmund, 6-0 dari Atletico Madrid, atau 7-0 dari Barcelona. Namun, kegagalan kali ini terasa lebih menyakitkan karena mereka punya keunggulan agregat yang sangat besar. Kehilangan keunggulan 4-0 adalah sebuah noda hitam dalam sejarah klub.
Dari sisi finansial, tersingkir dari Liga Champions jelas merugikan. Namun, yang lebih parah adalah pukulan telak bagi harga diri klub. Celtic kembali diingatkan bahwa mereka masih jauh dari level tim-tim papan atas Eropa. Pertanyaan tentang ambisi klub pun kembali mencuat. Bagaimana mungkin tim sekelas Celtic bisa bermain dengan sangat buruk ketika berada di ambang pintu fase grup?
Kegagalan ini juga menjadi catatan buruk bagi O'Neill, yang sebelumnya dikenal sebagai manajer yang mampu membawa tim tampil gemilang di Eropa. Namun, malam di Linz itu menjadi salah satu malam terburuk dalam karier manajerialnya. Ia sudah mencoba mengubah keadaan dengan melakukan lima pergantian pemain dalam 12 menit, tetapi semuanya sia-sia. Celtic tidak punya tembakan tepat sasaran di babak kedua dan perpanjangan waktu.
Dengan kekalahan ini, Celtic harus menjalani sisa musim di Liga Europa. Namun, yang lebih penting, mereka harus segera melakukan introspeksi. Jika tidak, mimpi buruk seperti ini akan terus berulang. Para penggemar layak kecewa, dan manajemen klub harus bertindak nyata, bukan hanya janji manis.
KOMENTAR ()
Kamu harus login untuk ikut berdiskusi.
Login Sekarang