Karier kepelatihan Cristian Chivu di kursi manajerial terus menarik perhatian publik sepak bola Eropa. Mantan bek tangguh yang pernah merasakan manisnya treble winners bersama Inter Milan pada 2010 silam ini kini memegang kendali penuh di ruang ganti Nerazzurri. Berbicara dalam siniar Cronache di Spogliatoio, Chivu membuka suara mengenai filosofi kepelatihannya yang anti-topeng dan selalu mengutamakan transparansi emosional kepada para pemainnya di atas lapangan hijau.
Perjalanan karier pelatih asal Rumania ini memang tergolong kilat dan luar biasa mengesankan. Usai sempat menimba pengalaman bersama Parma, ia langsung dipercaya memimpin San Siro dan sukses menyabet gelar Scudetto serta Coppa Italia di musim penuh pertamanya sebagai pelatih kepala senior. Meski kesuksesan besar telah berada dalam genggamannya, Chivu menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak ingin berubah atau mengenakan topeng palsu demi tuntutan dunia sepak bola modern yang kerap penuh dengan tekanan artifisial.
Sebagai bentuk pendekatan personal kepada skuad asuhannya, Chivu secara terbuka memilih untuk menghapus tradisi lama sepak bola Italia yang mewajibkan pemain menjalani masa karantina konsentrasi penuh sebelum pertandingan. Ia memilih memercayakan tanggung jawab penuh kepada para penggawa La Beneamata, termasuk tidak langsung menarik keluar pemain yang sudah mendapatkan kartu kuning. Pendekatan matang ini juga diterapkan dalam mengintegrasikan para rekrutan anyar asal Inggris seperti John Stones yang diboyong pada bursa transfer musim panas lalu demi mendongkrak kualitas lini belakang tim.
Chivu memuji etos kerja serta kepribadian John Stones yang dinilai sangat serius namun tetap merupakan sosok luar biasa di ruang ganti. Selain itu, pelatih berusia paruh baya ini juga memberikan apresiasi tinggi kepada talenta muda berbakat asal Prancis, Andy Diouf, yang memiliki mentalitas luar biasa dan rasa ingin tahu yang sangat tinggi dalam sesi analisis video taktik. Fleksibilitas Diouf yang bisa bermain di berbagai posisi membuat sang pelatih terus mengasah kemampuan olah bola sang pemain agar semakin matang di kompetisi level tertinggi.
Dengan kombinasi taktik modern, kedekatan emosional layaknya seorang kakak kepada adiknya, serta ketenangan dalam menghadapi tekanan hasil pertandingan, Chivu bertekad membawa Nerazzurri terus mendominasi kompetisi domestik maupun Eropa. Ia memilih untuk fokus menikmati setiap proses yang berjalan saat ini tanpa harus memikirkan proyeksi karier jangka panjang yang terkadang justru mengaburkan esensi sejati dari permainan sepak bola itu sendiri.
KOMENTAR ()
Kamu harus login untuk ikut berdiskusi.
Login Sekarang