Direktur Atalanta, Cristiano Giuntoli, dengan jujur mengakui bahwa timnya masih berada dalam tahap membangun identitas permainan yang jelas di bawah arahan pelatih Maurizio Sarri. Tantangan besar ini mengiringi langkah La Dea jelang lawatan krusial mereka ke markas AC Milan di Stadion San Siro, di mana konsistensi performa menjadi harga mati yang harus segera dibuktikan di atas lapangan.

Badai cedera yang melanda skuad asuhan Sarri tentu saja memperlambat proses adaptasi taktik yang drastis ini. Setelah sebelumnya kehilangan sejumlah pilar penting, masalah lini belakang semakin parah ketika Giacomo Raspadori harus menepi akibat cedera otot dalam laga UEFA Conference League, menyusul Franck Kessie, Giorgio Scalvini, Odilon Kossounou, Isak Hien, dan Kamaldeen Sulemana yang sudah lebih dulu menghuni ruang medis.

Situasi pelik tersebut kian diperparah dengan absennya Eljif Elmas yang harus menjalani hukuman skorsing akibat kartu merah saat menghadapi Venezia. Meski demikian, Giuntoli menegaskan bahwa kedalaman skuad La Dea tetap kompetitif, terlebih setelah mereka mampu bangkit dan memetik dua kemenangan beruntun dengan skor identik 3-1 atas Venezia serta wakil Siprus, Pafos.

Dilansir dari Football Italia, transisi gaya bermain di bawah Maurizio Sarri memang membutuhkan waktu dan kesabaran ekstra setelah melalui awal musim yang cukup terjal. Sang pelatih sempat bereksperimen dengan formasi 4-3-3 hingga 4-2-3-1, namun Giuntoli meyakini bahwa mentalitas dan sikap para pemain di atas lapangan jauh lebih krusial ketimbang sekadar skema formasi di atas kertas.

Gelandang kreatif Lazar Samardzic turut mengamini situasi tersebut dengan menyatakan bahwa timnya kini mulai terbiasa memperagakan sepak bola yang diinginkan sang allenatore. Musim ini praktis menjadi tahun penyesuaian total atau yang kerap disebut sebagai Tahun Nol bagi klub asal Bergamo tersebut, mengingat jadwal padat sejak babak play-off Agustus lalu membatasi waktu latihan efektif bersama pelatih anyar.