Tepat lima belas tahun lalu, Bournemouth harus menelan pil pahit kekalahan 1-2 di kandang sendiri dari Bury saat masih berkutat di kasta ketiga Liga Inggris. Kini, atmosfer di Stadion Vitality berubah drastis dari memori kelam tersebut. Klub berjuluk The Cherries ini bersiap menyambut raksasa Serie A, AC Milan, dalam ajang kompetisi Europa League yang menjanjikan malam bersejarah bagi publik Dorset.
Perjalanan luar biasa klub yang sempat terancam likuidasi pada 2008 dan harus menggalang dana lewat kaleng sumbangan ini menjelma menjadi kisah dongeng paling nyata di sepak bola modern. Di bawah kepemilikan miliarder asal Amerika Serikat, Bill Foley, klub kini telah bertransformasi menjadi kekuatan mapan di Premier League. Fasilitas latihan baru yang megah serta akademi kelas atas melengkapi pencapaian gemilang mereka menembus kancah Eropa untuk pertama kalinya dalam sejarah 127 tahun klub.
Bagi para suporter setia seperti Kirk Tovey dari kanal suporter Cherries Red Army, momen ini terasa sangat sureal. Dulu suporter bisa datang santai sepuluh menit sebelum sepak mula dan hanya disaksikan sekitar 6.000 penonton. Sekarang, tiket pertandingan Eropa menjadi barang paling diperebutkan di kota ini, dengan kapasitas stadion yang terus digenjot demi menampung antusiasme luar biasa dari publik tuan rumah yang haus akan tontonan level atas.
Di sisi lain, Rossoneri datang dengan status sebagai peraih tujuh gelar juara Eropa, meski tengah berjuang di papan atas Liga Italia. Kehadiran pemain veteran sarat pengalaman seperti gelandang asal Kroasia yang kini memperkuat AC Milan, menambah daya tarik tersendiri di atas lapangan. Pertemuan kompetitif ini bukan lagi sekadar laga amal atau uji coba pramusim seperti masa lalu, melainkan bukti sah bahwa kerja keras bertahun-tahun telah membawa tuan rumah layak berdiri sejajar dengan para bangsawan sepak bola Benua Biru.
Menariknya, hubungan batin antara kedua klub ternyata sudah terjalin sejak dekade 1970-an silam. Manajer Bournemouth saat itu, John Bond, sengaja mengubah warna jersey tradisional tim menjadi merah-hitam bergaris sebagai bentuk kekaguman pada dominasi AC Milan di era tersebut, sekaligus mengubah nama klub agar terdengar lebih bernuansa kontinental. Kini, sejarah masa lalu dan ambisi masa kini berpadu dalam sebuah bentrokan akbar yang membuktikan bahwa mimpi-mimpi paling liar sekalipun bisa menjadi kenyataan di atas lapangan hijau.
KOMENTAR ()
Kamu harus login untuk ikut berdiskusi.
Login Sekarang