Roberto De Zerbi melihat Sandro Tonali sebagai sosok yang bisa menjadi pemimpin di proyek barunya bersama Tottenham Hotspur. Pelatih asal Italia itu percaya gaya bermain khas Italia yang dibawa Tonali akan memberi warna berbeda di Premier League, dan ia bisa belajar banyak dari semangat juang Argentina di Piala Dunia.

De Zerbi, yang baru berusia 47 tahun, sudah malang melintang melatih di Italia, Ukraina, Prancis, dan Inggris. Ia mengambil alih kursi pelatih Tottenham pada Maret 2026, dengan misi menyelamatkan klub dari zona degradasi di akhir musim. Kini, ia bertekad membangun tim dari nol dengan strategi transfer yang tidak tanggung-tanggung.

Salah satu pembelian besarnya adalah merekrut Tonali dari Newcastle United dengan biaya mencapai €115 juta (sekitar Rp1,95 triliun). Kabarnya, De Zerbi lah yang meyakinkan Tonali untuk memilih Tottenham daripada Manchester City atau Arsenal.

Kepercayaan De Zerbi pada Tonali

“Jika saya benar-benar meyakinkannya, maka saya hanya bisa senang,” kata De Zerbi kepada Sky Sport Italia. “Saya selalu mengatakan yang sebenarnya kepada pemain. Saya percaya dia adalah pemain yang selalu menjadi pemimpin di setiap skuad yang dia perkuat. Jadi di sini, dengan tim yang sedang dalam proses rekonstruksi, dia bisa memainkan peran penting.”

De Zerbi mengaku sudah mengamati Tonali sejak masih bermain untuk Brescia, klub kota kelahirannya. “Pada usia 18 tahun, dia sudah terlihat seperti pemain senior. Saya pikir ini adalah sesuatu yang bisa saya dan Tottenham tawarkan lebih dari klub lain. Ini musim 'nyata' pertama saya di Tottenham, yang lalu hanya tentang bertahan hidup, tapi kali ini kami bisa membangun sesuatu yang langgeng di liga tersulit di Eropa,” jelasnya.

Perbedaan Budaya Italia dan Inggris

De Zerbi, yang sebelumnya melatih Brighton, melihat perbedaan besar dalam cara pemain Italia dan Inggris menjalani kehidupan sepak bola. “Di Inggris, pengalaman sepak bola terasa berbeda. Ada lebih sedikit pemusatan latihan, yang sebenarnya menjadi momen penting untuk menghabiskan waktu bersama. Tapi di Italia, tekanannya jauh lebih besar, dan sering kali kami menciptakan tekanan itu sendiri,” ujarnya.

“Jika kalian menghabiskan waktu bersama hanya untuk mengisi waktu, lebih baik diam di rumah. Tapi jika waktu itu digunakan dengan baik, menciptakan kebersamaan dan koneksi, itu sangat fundamental. Lihat saja skuad Argentina di Piala Dunia, semangat tim mereka mendorong mereka melampaui batas. Tidak mudah, tapi saya pikir itu bisa dibangun di sini juga, sama pentingnya dengan gaya bermain,” tambahnya.

Tonali merasakan langsung perbedaan budaya tersebut. Di Italia, pemain sering mengadakan makan malam bersama, sementara di Newcastle ia hanya melakukannya dua kali setahun: saat Natal dan akhir musim. De Zerbi pun mencoba menerapkan kebiasaan itu di timnya, termasuk saat di Marseille. “Saya mengadakan pemusatan latihan untuk tujuan itu, jadi bukan hanya sepak bola yang kami bagikan, tapi juga kehidupan kami. Namun, itu tergantung pada kelompok pemain yang Anda miliki, mereka tidak semua sama,” pungkasnya.