Derasnya arus investasi asing di kompetisi kasta tertinggi Inggris membuat kepemilikan klub oleh suporter asli kian langka. Di tengah dominasi korporasi global, Brighton & Hove Albion dan Crystal Palace berdiri sebagai sedikit pengecualian yang dikelola oleh para pengarsa setia sejak belasan tahun lalu.
Tony Bloom di kubu Seagulls serta Steve Parish di Selhurst Park sama-sama membawa klub kesayangan mereka menikmati era keemasan paling sukses dalam sejarah masing-masing. Namun, di balik rivalitas sengit yang membakar tribun setiap kali bentrok tersaji, tersimpan rasa penasaran dan kekaguman tersembunyi dari kedua belah pihak yang saling bertepuk sebelah tangan.
Brighton seringkali dipuja banyak kalangan berkat sistem analitik canggih dan strategi transfer yang matang. Meski rutin kehilangan pilar penting seperti Alexis Mac Allister atau Moises Caicedo, mereka konsisten finis di paruh atas klasemen Premier League. Manajemen yang solid membuat mereka tidak goyah meski ditinggal pelatih sekaliber Graham Potter atau Roberto De Zerbi ke klub lain.
Sebaliknya, pendekatan Crystal Palace jauh lebih berliku dan emosional, namun justru membuahkan hasil nyata berupa trofi juara yang didambakan. Dilansir dari FourFourTwo, kubu The Eagles mampu mengamankan gelar Piala FA, Community Shield, serta UEFA Conference League dalam kurun waktu setahun di bawah komando pelatih mereka.
Bagi Brighton, trofi mayor masih menjadi pekerjaan rumah terbesar meski mereka memiliki struktur klub yang sangat rapi. Sebaliknya, Palace tentu mendambakan konsistensi jangka panjang serta kesinambungan manajemen yang selama ini menjadi senjata rahasia tetangga selatan mereka tersebut.
KOMENTAR ()
Kamu harus login untuk ikut berdiskusi.
Login Sekarang