Bayangkan jika setiap akhir pekan, ribuan suporter dari seluruh Irlandia berbondong-bondong ke Dublin untuk menyaksikan laga Premier League. Bukan sekadar laga pramusim, melainkan laga kandang reguler sebuah klub papan atas Inggris. Tiga dekade lalu, sebuah rencana gila sempat mengemuka: memindahkan Wimbledon ke ibu kota Irlandia.

Semua bermula dari laporan surat kabar tentang hubungan buruk antara Sam Hammam, chairman Wimbledon, dengan Merton Council. Sejak 1991, klub yang identik dengan 'Crazy Gang' ini harus berbagi stadion dengan Crystal Palace di Selhurst Park. Situasi yang tidak nyaman, baik bagi tuan rumah maupun tamu.

"Kami selalu mendapat ejekan dari fans Palace yang menyebut kami pengungsi," kenang Kenny Cunningham, bek asal Dublin yang bergabung pada 1994. Meski era kejayaan Piala FA telah usai, di bawah asuhan Joe Kinnear, Wimbledon tetap menjadi tim papan atas yang disegani, finis keenam di musim 1993-94.

Membaca kebuntuan Hammam dengan dewan kota, Tommy Higgins, yang bekerja untuk Ticketmaster Ireland, melihat peluang. Ia tahu pengembang properti Owen O'Callaghan memiliki izin membangun stadion 40.000 kursi di pinggiran Dublin. Stadion butuh klub, klub butuh stadion. Sebuah konsorsium pun terbentuk, melibatkan tokoh-tokoh berpengaruh seperti Eamon Dunphy dan Paul McGuinness, manajer band U2.

Pada 17 Agustus 1996, saat David Beckham mencetak gol ikonik dari garis tengah lapangan ke gawang Wimbledon, konsorsium itu hadir di tribun Selhurst Park. Mereka menyiapkan tawaran £6 juta (sekitar Rp120 miliar) untuk 74% saham klub. Namun, para penggemar justru geram. Ivor Heller, suporter setia sejak era non-liga, membuat plakat bertuliskan 'Dublin = Death' (Dublin = Kematian). "Dari sudut pandang bisnis, saya bisa memahaminya. Tapi bagi saya, itu mimpi buruk. Itu akan menjadi akhir dari klub sepak bola ini," ujarnya.

FAI (Federasi Sepak Bola Irlandia) juga menolak keras. Mereka khawatir kehadiran klub Premier League di Dublin akan membunuh liga domestik mereka. Setelah 18 bulan negosiasi, kontak dengan Hammam terputus. Pada 1997, Hammam menjual 80% saham klub kepada investor Norwegia senilai £26 juta (sekitar Rp520 miliar), empat kali lipat dari tawaran konsorsium. Rencana itu pun kandas.

Kini, pusat perbelanjaan berdiri di lokasi yang seharusnya menjadi stadion Premier League. Wimbledon akhirnya pindah ke Milton Keynes pada 2004, dan para penggemar yang kecewa mendirikan AFC Wimbledon. Klub yang lahir dari abu tersebut kini bermain di League One dan telah kembali ke Plough Lane. "Itu pencapaian terbesar dalam sejarah klub," puji Cunningham. "Soal Dublin? Itu hanya nostalgia sekarang, mungkin sedikit sedih karena peluang yang hilang."