Kabar duka menyelimuti kancah sepak bola Inggris setelah mantan kapten Port Vale dan Gillingham, Doug Loft, tutup usia pada umur 39 tahun. Berdasarkan konfirmasi resmi klub, sang gelandang dikabarkan berpulang akibat darurat medis yang terjadi pada akhir pekan lalu. Kepergian sosok pemimpin di lapangan ini tentu meninggalkan lubang besar serta duka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan dan para pendukung setia yang pernah menyaksikannya beraksi.

Semasa aktif berkarier di atas lapangan hijau, Loft dikenal sebagai figur panutan yang mengedepankan determinasi tinggi di setiap pertandingan. Puncak kariernya paling lekat dengan Port Vale, di mana ia mencatatkan 196 penampilan serta mengemas 19 gol dalam rentang waktu 2009 hingga 2014. Berkat kepemimpinan dan performa konsistennya, ia dianugerahi gelar pemain terbaik musim 2011-2012 sekaligus mengemban ban kapten untuk membawa timnya meraih tiket promosi otomatis dari League Two.

Tidak hanya berjasa di Burslem, pemain yang mengawali perjalanan profesionalnya bersama Brighton & Hove Albion ini juga menorehkan tinta emas saat pindah ke Priestfield Stadium. Bersama Gillingham, Loft kembali dipercaya memegang ban kapten dan tampil dalam 70 pertandingan di ajang League One. Mantan manajernya, Micky Adams, mengenang sang gelandang sebagai sosok pejuang lapangan yang selalu tampil penuh semangat dan rasa bangga luar biasa ketika memimpin rekan-rekan setimnya.

Sebagai bentuk penghormatan terakhir atas jasa-jasa besarnya, manajemen Port Vale mengumumkan rencana untuk meminta izin kepada EFL agar para pemain mengenakan ban lengan hitam. Selain itu, sebuah momen mengheningkan cipta selama satu menit juga akan diselenggarakan sebelum pertandingan akhir pekan melawan Chesterfield dimulai sebagai tribut bagi sang mantan kapten.

Ucapan belasungkawa pun mengalir deras dari berbagai pihak, termasuk rekan setim semasa bermain serta klub-klub yang pernah dibelanya seperti Colchester United hingga Shrewsbury Town. Pihak keluarga, terutama sang istri Laura beserta anak-anak mereka, Freya dan Amelie, mendapatkan dukungan moral penuh dari komunitas sepak bola Inggris di tengah masa-masa berat ini.