Kabar mengejutkan datang dari kancah sepak bola internasional ketika mantan penyerang West Bromwich Albion, Saido Berahino, memutuskan untuk gantung sepatu di usia 33 tahun. Keputusan berat ini diambil sang penyerang demi fokus penuh meniti lembaran baru sebagai pelatih tim nasional Burundi, negara tempat ia lahir dan dibesarkan sebelum merantau ke Inggris.

Perjalanan karier Berahino sendiri dipenuhi liku-liku tajam yang menguji mentalitasnya sebagai pesepak bola profesional. Nama sang bomber mulai melambung tinggi ketika ia menjadi pilar lini depan West Bromwich Albion, di mana ia sempat mencatatkan musim paling produktif dengan mengemas total 20 gol di ajang Premier League maupun kompetisi piala pada musim 2014-2015 silam.

Performa gemilang tersebut sempat membuat Stoke City terpikat dan memboyongnya dengan mahar mencapai sekitar Rp240 Juta pada Januari 2017. Sayangnya, kepindahan tersebut justru menjadi titik balik penurunan kariernya di level tertinggi setelah gagal memenuhi ekspektasi publik betis merah dan berujung pada degradasi klub dari kasta tertinggi Liga Inggris pada April 2018.

Selepas petualangannya di daratan Britania Raya yang diwarnai naik turun performa, Berahino sempat mencoba peruntungan di berbagai belahan dunia mulai dari Belgia, Siprus, India, hingga Slovenia. Pengalaman internasionalnya juga membentang dari status sebagai andalan tim muda Inggris hingga akhirnya memilih membela tim nasional senior Burundi dengan catatan 23 penampilan.

Melalui surat perpisahan emosional berjudul 'Letter To The Game' di media sosial, sang penyerang menyampaikan rasa terima kasih mendalam kepada klub masa kecilnya serta suporter yang selalu mendukungnya. Kini, alih-alih merumput di lapangan hijau, mantan tumpuan lini depan West Bromwich Albion ini siap mendedikasikan diri sepenuhnya untuk membimbing generasi penerus sepak bola Burundi.