Unai Emery dikenal sebagai raja Liga Europa. Bersama Aston Villa, ia baru saja mempersembahkan trofi kelima di kompetisi tersebut usai mengalahkan Freiburg di Istanbul—mengakhiri paceklik gelar selama 30 tahun. Namun, ada satu trofi yang masih enggan datang kepadanya: Piala Super Eropa. Rabu (13/8) dini hari WIB, Emery punya kesempatan ketiga untuk memecah telur itu saat Villa berhadapan dengan Paris Saint-Germain di Red Bull Arena, Salzburg.
Ini bukan sekadar laga pemanasan. Emery sendiri mengaku sangat menginginkan trofi ini. Musim lalu, ia bahkan menyatakan targetnya adalah finis di tiga besar Premier League—sebuah ambisi yang belum kesampaian. Finis keempat bukanlah kegagalan, tapi bagi sosok perfeksionis seperti Emery, itu tetap mengganjal. Kini, ia kembali berhadapan dengan PSG, klub yang pernah ia tangani, dan ia ingin membayar lunas kegagalan-kegagalan sebelumnya.
Catatan Emery di Piala Super memang kurang bersahabat. Ia sudah tiga kali kalah di final—dua kali bersama Sevilla (dari Real Madrid dan Barcelona) dan sekali bersama Villarreal (kalah adu penalti dari Chelsea pada 2021). Kekalahan dari Barcelona pada 2015 terjadi lewat drama 5-4 di perpanjangan waktu, dengan Lionel Messi sebagai bintangnya. Setahun sebelumnya, Cristiano Ronaldo mencetak dua gol untuk membawa Real Madrid menang. Kini, dengan 6.000 fans Villa yang ikut bepergian, Emery bertekad memutus rentetannya.
Kapten Villa, John McGinn, bahkan sempat mengingatkan Emery tentang kekalahan melawan Chelsea pekan lalu. “Tentu saja, ini adalah kesempatan. Trofi adalah sesuatu yang bisa memberi kami momen spesial. Bermain untuk trofi adalah tujuan kami sebagai profesional,” ujar Emery. “PSG adalah favorit, tapi saya menantikan laga ini. Bagaimana kami bisa menguji kapasitas kami melawan mereka?”
Di kubu lawan, PSG juga tak mau menganggap enteng. Gelandang Vitinha menegaskan timnya tetap lapar akan kemenangan meski sudah sering juara. “Kami masih lapar akan kemenangan dan trofi. Sangat sulit mempertahankan level seperti itu, tapi kami tetap lapar,” kata pemain asal Portugal itu. Bek Marquinhos juga menekankan pentingnya trofi ini untuk menjaga mental juara. “Hanya karena kami sudah menang musim-musim sebelumnya, bukan berarti itu mudah. Kami tahu akan ada banyak rintangan,” ujarnya.
Laga ini juga menjadi ulangan perempat final Liga Champions musim lalu, di mana Villa nyaris membuat kejutan besar. Tertinggal 5-1 secara agregat, mereka bangkit dan menang 3-2 di kandang sendiri—meski akhirnya tersingkir 5-4. Momen itu dianggap sebagai bukti kebangkitan Villa di bawah Emery. “Itu ujian yang sangat sulit, terutama di babak kedua. Kami akan siap, tapi kami sadar betapa sulitnya nanti,” kenang Vitinha.
Skuad Villa kini jauh berbeda. Morgan Rogers, Lucas Digne, dan Youri Tielemans sudah dijual, sementara Amadou Onana cedera hingga tahun depan. Emi Martinez, Ezri Konsa, dan Ollie Watkins juga absen karena baru tampil di Piala Dunia dan diberi libur sebulan. Alhasil, hanya empat pemain starter di laga kontra PSG 18 bulan lalu yang kemungkinan akan tampil. McGinn mengakui banyak yang berubah, tapi ia optimistis. “Kami punya struktur, standar, dan aturan yang membuat kami sukses. Saya sangat antusias dengan Aston Villa yang baru,” tutupnya.
KOMENTAR ()
Kamu harus login untuk ikut berdiskusi.
Login Sekarang