Ada pergeseran menarik di kasta tertinggi Liga Inggris ketika para pelatih tim promosi mulai meninggalkan idealisme kaku demi kelangsungan hidup di zona merah. Mengambil analogi filsuf Isaiah Berlin tentang rubah yang cerdik dan landak yang keras kepala, lanskap taktik musim ini membuktikan bahwa pendekatan pragmatis jauh lebih mematikan di Premier League.
Musim ini, Hull City, Ipswich Town, dan Coventry City tampil mengejutkan di bawah arahan pelatih yang lebih fleksibel. Setelah melalui tujuh pertandingan awal, ketiga tim promosi tersebut sukses mengumpulkan total 24 poin gabungan, sebuah pencapaian terbaik bagi trio promosi sejak musim 2016/2017 silam.
Pendekatan "ala rubah" ini sebenarnya mulai terlihat sejak musim lalu ketika sejumlah tim berhasil selamat dari jurang degradasi berkat penyesuaian gaya main yang lebih kokoh dan mengandalkan serangan balik cepat. Dilansir dari FourFourTwo, ketiga tim promosi saat ini bahkan tercatat memiliki rata-rata penguasaan bola terendah di liga, namun efektivitas mereka terbukti jauh lebih tinggi dalam mendulang angka.
Berbeda dengan era sebelumnya di mana pelatih kerap bersikeras memainkan bola pendek dari belakang meski menghadapi tim elite, nama-nama seperti Frank Lampard di Coventry tidak ragu mengorbankan estetika demi substansi hasil akhir. Lampard dengan tegas menyatakan bahwa timnya bukan sekadar pelengkap penderita yang akan tampil naif seperti saat mendominasi divisi Championship.
Meski jalan panjang masih membentang dan ancaman degradasi tetap mengintai, angin perubahan tampaknya berpihak pada para juru taktik yang memprioritaskan realitas di atas lapangan. Fleksibilitas terbukti menjadi kunci utama agar klub-klub gurem tidak langsung menjadi 'lauk' empuk bagi raksasa liga.
KOMENTAR ()
Kamu harus login untuk ikut berdiskusi.
Login Sekarang