Kekalahan Brighton & Hove Albion di kandang Liverpool menyisakan ketegangan tersendiri di ruang konferensi pers. Pelatih muda Fabian Hurzeler secara terbuka menyindir pendekatan taktik yang diterapkan oleh sang tuan rumah setelah timnya dipaksa menyerah dengan skor 2-0 di Stadion Anfield. Dalam duel sengit tersebut, gol bunuh diri Pascal Gross serta sepakan terukur Alexander Isak memastikan tiga poin penuh jatuh ke tangan skuad asuhan Andoni Iraola.

Meski pulang dengan kepala tertunduk, pelatih asal Jerman itu merasa timnya tampil lebih mendominasi dalam hal kreasi peluang. Berdasarkan statistik pasca-pertandingan, Brighton tercatat menguasai jalannya laga dengan penguasaan bola lebih baik serta mencatatkan angka expected goals (xG) yang lebih tinggi dibandingkan sang lawan. Hal inilah yang memicu kritik terselubung dari sang juru taktik terhadap cara bermain The Reds sepanjang 90 menit penuh.

"Saya pikir semua orang di stadion melihat bahwa hanya ada satu tim yang benar-benar mencoba untuk menciptakan peluang dan mencoba memenangkan pertandingan ini," ujar sang pelatih kepada para awak media. Ia menambahkan bahwa skuadnya sebenarnya menyia-nyiakan momentum emas, terutama lewat sejumlah peluang matang yang gagal dikonversi menjadi gol sebelum tuan rumah membuka keunggulan terlebih dahulu di atas lapangan hijau.

Lebih lanjut, Hurzeler mengakui ketangguhan barisan pertahanan lawan yang digalang oleh duet bek tengah serta kontribusi solid dari Ronald Araujo dan Milos Kerkez dalam memblok setiap ancaman. Namun, ia tetap merasa frustrasi karena kekalahan tersebut lahir dari kesalahan sendiri serta kegagalan menjaga duel-duel penting di area krusial. Di sisi lain, kemenangan ini membawa anak asuh Iraola merangsek naik ke peringkat keempat klasemen sementara Premier League usai mengamankan rentetan hasil positif keempat secara beruntun di semua kompetisi.