Gagasan besar untuk merombak tradisi NCAA dengan membagi kompetisi sepak bola pria ke dalam dua semester resmi kandas di tengah jalan. Gelombang penolakan masif dari mayoritas institusi perguruan tinggi membuat rencana yang sedianya dimulai pada periode 2027-2028 tersebut harus dikubur dalam-dalam.

Dilansir dari ESPN FC, komite pengawas sebenarnya sempat meloloskan regulasi ini pada bulan Mei lalu. Namun, karena gagal meraup dukungan mutlak dalam voting Kabinet Divisi I pada Oktober, aturan ini masuk ke dalam masa evaluasi 30 hari. Syarat pembatalannya cukup telak, yakni membutuhkan sedikitnya 241 suara penolakan dari total 361 sekolah yang terdaftar di Divisi I.

Batas waktu penentuan yang jatuh pada hari Jumat sore WIB akhirnya mengonfirmasi bahwa ambang batas tersebut terpenuhi dengan sempurna. Pihak penyelenggara memastikan bahwa cabang olahraga sepak bola pria akan tetap mempertahankan format tradisionalnya yang dipusatkan sepenuhnya pada musim gugur setiap tahunnya.

Sebagian besar penolakan datang dari departemen atletik dari kampus-kampus kategori menengah ke bawah yang blak-blakan mengeluhkan keterbatasan fasilitas serta sumber daya pendukung. Menariknya, sejumlah universitas mapan seperti jajaran kampus Ivy League hingga institusi besar seperti Boston College turut kompak menolak meski secara finansial sangat mampu.

Sebelumnya, para pendukung format dua semester mengklaim bahwa jadwal baru ini bakal menekan tingkat kelelahan pemain dan mengurangi jumlah jam kuliah yang terlewat akibat pertandingan tengah pekan. Pelatih kepala Maryland, Sasho Cirovski, bahkan sempat melabeli jadwal padat saat ini sebagai sistem yang kuno, tidak adil, serta membahayakan keselamatan fisik para atlet muda.