Dominasi telak yang diperlihatkan oleh England saat menyingkirkan Yunani dengan agregat 8-1 memantik perdebatan hangat di kalangan pecinta sepak bola internasional. Kemenangan mutlak ini kembali membuka diskusi panjang mengenai efektivitas format babak play-off kualifikasi Piala Dunia Wanita yang dinilai kurang ideal. Betapa tidak, Sarina Wiegman bersama skuad asuhannya harus menghadapi lawan yang memiliki selisih peringkat jauh di bawah mereka, menciptakan jurang kualitas yang terlalu mencolok di atas lapangan hijau.

Masalah utama dari ketimpangan ini bersumber dari regulasi fase grup yang hanya memberikan satu tiket lolos otomatis bagi juara grup di League A. Akibat aturan tersebut, sejumlah raksasa Eropa seperti Belanda, Norwegia, Swedia, hingga tim asuhan Sarina Wiegman terpaksa melalui jalur play-off setelah finis di bawah tim kuat lain. Belanda sukses membantai Hungaria 11-0, sementara Swedia mencatatkan kemenangan fantastis 15-0 atas lawannya, memperlihatkan betapa tidak seimbangnya bentrokan antara tim elite dan kontestan dari liga bawah.

Situasi ini terasa semakin kontradiktif mengingat ketatnya persaingan di level tertinggi sepak bola wanita Eropa saat ini. Skuad berjuluk The Lionesses sebelumnya harus bersaing di grup neraka bersama juara dunia Spanyol, mengumpulkan 15 poin impresif, bahkan sempat membungkam Spanyol 1-0 di Wembley. Namun, hanya karena kalah head-to-head dari sang juara dunia, mereka terlempar ke babak play-off dan harus kembali menghadapi Ukraina, tim yang bahkan sudah dua kali mereka taklukkan di fase grup sebelumnya dengan agregat 9-1.

Kritik terhadap alur kualifikasi ini turut dirasakan langsung oleh sang juru taktik. Meski memilih fokus menghadapi sisa laga melawan Ukraina pada Desember mendatang, ia tidak menampik perlunya evaluasi menyeluruh dari UEFA terkait sistem yang berjalan. Ironisnya, di saat tim-tim kuat Eropa harus membuang energi melakoni laga berat sebelah melawan musuh yang sudah sering mereka jumpai, para rival global seperti Amerika Serikat, Spanyol, Jerman, dan Jepang justru menikmati agenda uji coba level tinggi.

Kesenjangan kompetitif ini memunculkan pertanyaan besar mengenai masa depan turnamen dan keadilan bagi kontestan papan atas. Terlebih dengan rencana FIFA yang akan memperluas peserta Piala Dunia Wanita menjadi 48 tim pada edisi 2031 mendatang, peninjauan ulang terhadap format kualifikasi di zona Eropa menjadi agenda mendesak agar panggung sepak bola wanita dapat menyajikan pertarungan yang kompetitif sejak menit pertama.