Kemarahan mendalam menyelimuti kubu Coventry setelah kekalahan menyakitkan 1-3 dari Everton dalam duel sengit hari Jumat. Sang manajer, Frank Lampard, tanpa ragu melontarkan kritik pedas kepada perangkat pertandingan dan teknologi video assistant referee. Dilansir dari Sky Sports, pelatih berusia berpengalaman itu merasa timnya dirugikan secara telak setelah tiga keputusan krusial kontroversial justru berpihak pada sang tuan rumah di Merseyside.

Pertandingan sendiri berjalan dengan tempo tinggi dan diwarnai berbagai insiden yang memancing perdebatan panas di pinggir lapangan. Coventry sejatinya sempat membuka keunggulan, namun momentum laga seketika runtuh akibat serangkaian keputusan wasit Stuart Attwell bersama petugas VAR Timothy Wood dan Gary Beswick. Lampard menegaskan bahwa dirinya sangat benci dianggap sebagai sosok pelatih yang suka mengeluh, tetapi ketika keputusan-keputusan besar mengubah jalannya laga secara drastis, ia merasa harus bersuara demi keadilan timnya.

Salah satu sorotan tajam mengarah pada insiden di babak pertama ketika James Tarkowski terlibat duel udara dengan menarik rambut Caleb Yirenkyi. Meskipun aturan baru Premier League memberikan panduan ketat terkait aksi memegang atau menarik rambut, VAR memutuskan untuk tidak memberikan hadiah penalti. Pundit sepak bola Inggris, Jamie Redknapp, turut sependapat dengan Lampard bahwa aksi tersebut jelas-jelas sebuah pelanggaran nyata yang seharusnya menguntungkan tim tamu di kotak terlarang.

Belum cukup sampai di situ, ketegangan kembali memuncak pada awal babak kedua ketika Taiwo Awoniyi dijatuhkan di kotak terlarang oleh Vitalii Mykolenko. Wasit lapangan bergeming, sementara tinjauan VAR memutuskan bahwa kontak tersebut terjadi di luar garis kotak penalti. Namun, tayangan ulang justru memperlihatkan posisi kaki penyerang tersebut berada tepat di garis, yang dalam aturan sepak bola seharusnya dihitung sebagai pelanggaran penalti yang sah bagi Coventry.

Kontroversi ditutup dengan proses gol kedua Everton yang dicetak oleh sang penyerang setelah memanfaatkan kemelut di depan gawang. Protes keras langsung dilayangkan karena bola tampak menyentuh tangan pencetak gol sebelum masuk ke jala. Meskipun Lampard dan pandit Lee Hendrie meyakini adanya sentuhan tangan, VAR mengesahkan gol tersebut karena tidak menemukan bukti visual yang cukup meyakinkan untuk menganulirnya dalam tempo cepat.