Awal kepemimpinan Marink Reedijk di Easter Road sama sekali jauh dari kata mulus. Dua kekalahan beruntun dari dua laga pembuka membuat Hibernian harus rela merosot ke dasar klasemen sementara Scottish Premiership. Kekalahan 1-2 dari Falkirk di kandang sendiri akhir pekan lalu meninggalkan rasa hampa yang mendalam bagi sang juru taktik asal Belanda tersebut.

Dilansir dari BBC Sport, pelatih berusia 35 tahun itu mengaku merasakan sensasi aneh sekaligus tidak nyaman di perutnya melihat posisi timnya saat ini. Bagaimana tidak, kekalahan tersebut memperpanjang catatan minor Hibs yang belum pernah merasakan kemenangan liga di hadapan pendukung sendiri selama lebih dari enam bulan. Tekanan dari tribun penonton tentu saja mulai meningkat tajam seiring hasil buruk yang terus berlanjut.

Secara statistik permainan, Marink Reedijk sebenarnya sempat melihat beberapa indikasi positif dari anak asuhnya. Menguasai 70 persen penguasaan bola, mencatat 17 tembakan, serta mendominasi area sepertiga akhir lapangan menunjukkan bahwa skema yang diinginkannya mulai berjalan. Namun, masalah klasik berupa kesalahan individu dan ketidakefektifan di kotak penalti lawan masih menjadi penyakit akut yang menghancurkan peluang mereka.

Situasi ini diperparah dengan jadwal neraka yang sudah menanti di depan mata. Dalam tiga pertandingan terdekat, Hibs harus menghadapi sang juara bertahan Celtic serta partai krusial semifinal piala nasional menghadapi rival sekota, Hearts. Mantan penyerang Hearts, Ryan Stevenson, turut menyoroti situasi genting ini dan menyebut bahwa skuad asuhan Reedijk saat ini memang tengah berada dalam kekacauan performa.

Kini, tugas berat terpampang nyata di pundak sang pelatih untuk segera memperbaiki mentalitas pemain sekaligus meredam kemarahan suporter yang mulai menuntut perombakan manajemen. Jika tidak segera menemukan formula kemenangan, bayang-bayang degradasi yang tadinya tabu dibicarakan kini perlahan menjadi ancaman nyata yang bisa menghancurkan klub asal Edinburgh tersebut.