Klub raksasa Italia, Inter Milan, kembali menunjukkan stabilitas finansial di bawah kepemilikan Oaktree dengan mengumumkan catatan positif pada neraca keuangan mereka. Berdasarkan laporan yang dirilis, Nerazzurri sukses membukukan laba bersih sebesar €22,7 juta atau sekitar Rp385 miliar untuk tahun finansial 2025-2026. Meski angka ini mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya, konsistensi ini menjadi angin segar bagi para suporter di tribun Stadio Giuseppe Meazza yang mengawal ketat perjalanan klub.

Jika dikomparasikan dengan tahun sebelumnya, di mana Inter meraup laba hingga €35,4 juta (sekitar Rp601 miliar) berkat kejayaan menembus final Champions League serta keikutsertaan di ajang Piala Dunia Antarklub, pendapatan total kali ini memang menyusut dari €567 juta (sekitar Rp9,6 Triliun) menjadi €517,7 juta atau setara Rp8,8 Triliun. Kendati demikian, angka tersebut tetap tercatat sebagai omzet tertinggi kedua sepanjang sejarah klub.

Penurunan pendapatan ini utamanya dipicu oleh anjloknya pemasukan hak siar UEFA yang hampir terpangkas separuhnya dari €136,8 juta (sekitar Rp2,3 Triliun) menjadi €73,8 juta (sekitar Rp1,2 Triliun), ditambah absennya bonus senilai €31,4 juta (sekitar Rp533 miliar) dari Piala Dunia Antarklub. Di sisi lain, departemen komersial justru menunjukkan taji dengan kenaikan pemasukan hingga €150,8 juta (sekitar Rp2,5 Triliun), sementara aktivitas bursa transfer pemain menyumbang €33,1 juta (sekitar Rp562 miliar) termasuk keuntungan modal pemain.

Manajemen klub juga melakukan efisiensi yang cukup signifikan pada pos pengeluaran operasional dengan memangkas biaya hingga 4 persen menjadi €462,8 juta (sekitar Rp7,8 Triliun). Beban staf secara keseluruhan turun ke angka €239,7 juta (sekitar Rp4 Triliun), di mana penurunan gaji staf pelatih serta bonus performa mampu mengimbangi kenaikan upah pemain yang naik tipis dari €154,6 juta menjadi €161 juta (sekitar Rp2,7 Triliun).

Kondisi finansial klub semakin diperkokoh oleh penurunan biaya finansial bersih yang terpangkas lebih dari separuhnya berkat langkah restrukturisasi dan refinancing obligasi klub. Berkat perbaikan menyeluruh ini, ekuitas konsolidasian Inter sukses kembali ke zona positif di angka €10,4 juta (sekitar Rp176 miliar), membalikkan situasi dari minus €12,3 juta pada tahun sebelumnya di tengah total utang yang berada di kisaran €665,4 juta (sekitar Rp11,3 Triliun).