Matthias Jaissle resmi diperkenalkan sebagai manajer baru Newcastle United di St James' Park dengan jabat tangan hangat. Namun, di balik senyum ramahnya, pelatih asal Jerman itu punya kekhawatiran besar: bagaimana wasit Premier League akan menilai gaya emosionalnya di pinggir lapangan.

"Saya tidak akan mengubah gaya saya karena itu kepribadian saya," ujar Jaissle dalam konferensi pers perdananya, dikutip dari BBC Sport. "Di pinggir lapangan, saya emosional, tapi saya harus lebih menghormati kotak teknis. Saya agak takut. Saya berharap di awal para wasit bisa sedikit menutup mata. Saya perlu belajar itu."

Jaissle, yang sebelumnya sukses menjuarai Liga Champions Asia dua kali bersama Al-Ahli, mengakui kebiasaannya berjalan jauh di sepanjang pinggir lapangan di Arab Saudi. "Saya punya touchline yang panjang di Arab Saudi, jadi saya pikir GPS saya akan tinggi jika saya memakainya!" candanya.

Perbedaan kepribadian Jaissle di dalam dan luar lapangan bahkan disamakan dengan Jekyll dan Hyde oleh orang-orang terdekatnya. Mantan rekan setimnya di Hoffenheim, Chinedu Obasi, menyebut Jaissle selalu lapar akan kemenangan sejak menjadi pemain. Karier bermainnya memang berakhir di usia 26 tahun karena cedera lutut parah, tetapi hasrat itu tak pernah padam.

Kini, Jaissle dihadapkan pada tantangan besar: mengembalikan reputasi St James' Park sebagai benteng yang sulit ditaklukkan. Musim lalu, Newcastle finis di peringkat 12 dan kehilangan tujuh laga kandang. Jaissle punya resep: sepak bola intens, vertikal, agresif, dan maju ke depan. "Saya yakin akan ada sinergi besar antara fans dan tim jika kami bermain seperti yang mereka inginkan," katanya.

Meski kehilangan pemain kunci seperti Anthony Gordon, Sandro Tonali, dan Bruno Guimaraes yang disebutnya menciptakan "kekosongan", Jaissle optimistis. "Kami ambisius. Itu yang terpenting. Ini tidak akan terjadi dalam semalam, apalagi dengan masa transisi sebesar ini," tutupnya.