Peta kekuatan politik sepak bola dunia mendadak berubah setelah Victor Montagliani memastikan diri untuk fokus mempertahankan posisinya di Concacaf ketimbang maju sebagai penantang dalam bursa pemilihan orang nomor satu di tubuh otoritas tertinggi bola sejagat. Keputusan strategis ini otomatis melapangkan jalan bagi Gianni Infantino untuk melenggang tanpa hambatan berarti dalam mempertahankan singgasananya, sekaligus meredam tensi panas yang sempat membakar hubungan internal organisasi dalam beberapa bulan terakhir.

Sebelumnya, rencana kontroversial terkait proyek pendanaan senilai USD 20 miliar atau setara dengan sekitar Rp310 Triliun melalui penjualan sebagian hak kompetisi termasuk Piala Dunia sempat memicu gelombang kemarahan masif dari berbagai konfederasi global. Tekanan keras yang digalang oleh UEFA bahkan sempat memunculkan ancaman boikot total terhadap seluruh agenda turnamen resmi sebagai bentuk protes keras terhadap kebijakan tersebut, memaksa pucuk pimpinan tertinggi menarik kembali rencana ambisiusnya di tengah kecaman publik.

Dilansir dari ESPN FC, Montagliani sempat dijagokan sebagai figur terkuat yang memiliki kans paling kompetitif untuk meredam dominasi petahana dalam pemilihan yang dijadwalkan berlangsung pada bulan Maret mendatang. Namun, dalam pertemuan workshop awal bulan ini, pejabat berusia 61 tahun itu secara terbuka menyatakan niatnya untuk mengambil masa bakti terakhir selama empat tahun memimpin wilayah Amerika Utara, Tengah, dan Karibia.

Langkah mundurnya figur penting asal Kanada ini tentu menjadi pukulan telak bagi kubu oposisi, terutama koalisi Eropa yang kini harus memutar otak mencari figur alternatif yang memiliki kapasitas sepadan sebelum batas akhir pendaftaran kandidat ditutup pada 18 November. Di sisi lain, situasi ini memberikan angin segar bagi sang petahana yang dikabarkan semakin percaya diri mampu mengamankan dukungan minimal 106 suara dari total 211 anggota asosiasi nasional demi melanggengkan kekuasaannya.

Sementara itu, mantan bek tim nasional Swiss dan Tottenham Hotspur, Ramon Vega, sempat menyatakan kesiapannya untuk maju sebagai kandidat penantang dalam kontestasi mendatang. Kendati demikian, regulasi ketat yang mensyaratkan keaktifan peran di sektor sepak bola dalam kurun waktu tertentu dipastikan menjadi batu sandungan besar bagi ambisi pencalonannya.