Kisah cinta Jose Mourinho bersama AS Roma ternyata menyimpan kepedihan mendalam yang baru saja ia buka ke publik. Pelatih berjuluk The Special One itu blak-blakan mengakui bahwa perjalanan kariernya di ibu kota Italia sejatinya sudah 'mati' sejak malam kelam di Budapest pada ajang final Liga Europa 2023.

Mourinho mengenang kembali bagaimana kekalahan menyakitkan adu penalti dari Sevilla setelah bermain imbang 1-1 menjadi titik balik yang menghancurkan masa depannya. Meski sukses mempersembahkan gelar UEFA Europa Conference League dan mengakhiri puasa trofi klub, insiden di area parkir stadion terhadap wasit Anthony Taylor membawa dampak besar bagi hubungannya dengan petinggi klub.

Kemarahan sang pelatih meledak di ruang bawah tanah stadion, melabeli kinerja pengadil lapangan sebagai sebuah aib besar. Ekses dari kemarahan tersebut merembet hingga ke bandara keesokan harinya, di mana para pendukung terlibat keributan dan melempari sang pengadil lapangan beserta keluarganya dengan kursi.

Dilansir dari Football Italia, Mourinho dengan tegas menolak disalahkan atas insiden memalukan di bandara Budapest tersebut. Ia mengakui sepenuhnya kesalahannya karena melontarkan kecaman keras langsung kepada pengadil laga di area parkir, namun ia merasa tidak adil jika harus menanggung beban atas tindakan brutal suporter di bandara.

"Saya bertanggung jawab atas makian yang saya berikan kepada wasit di tempat parkir, dan untuk itu saya harus membayar. Saya seharusnya tidak harus membayar apa yang terjadi di bandara karena itu bukan salah saya," ujar pelatih asal Portugal tersebut dalam wawancara eksklusif.

Akibat rentetan drama tersebut, hubungan personalnya dengan jajaran pemilik klub perlahan retak hingga akhirnya pemecatan pun tak terelakkan beberapa bulan berselang di pertengahan musim 2023-2024. Kendati demikian, ia menegaskan tidak pernah menyimpan dendam dan akan selalu menganggap klub kebanggaan publik Olimpico tersebut sebagai rumah.