Harry Kane menatap trofi Ballon d'Or dengan rekor 73 gol bersama Bayern Munich dan Timnas Inggris, namun sejarah menunjukkan bahwa gelar juara besar seringkali menjadi penentu utama. Penyerang berusia 33 tahun itu menjadi favorit bandar, tetapi akankah ia mengukir sejarah baru?

Ballon d'Or pertama kali dianugerahkan pada 1956 dan sejak itu, performa di kompetisi terbesar selalu menjadi penentu. Di tahun-tahun Piala Dunia, pola yang jelas terlihat: pemain yang membawa negaranya juara atau setidaknya melaju jauh cenderung lebih diunggulkan. Contohnya, Bobby Charlton (1966), Paolo Rossi (1982), dan Zinedine Zidane (1998) semuanya meraih Ballon d'Or setelah mengangkat trofi Piala Dunia. Harry Kane sendiri belum pernah finis lebih tinggi dari peringkat 10 dalam perebutan pemain terbaik dunia.

Musim 2025-26 menjadi musim terbaik Kane secara individual. Ia mencetak 73 gol untuk klub dan negara—61 gol untuk Bayern Munich dan 12 gol untuk Inggris—serta membawa Bayern meraih Bundesliga dan DFB-Pokal. Jumlah golnya melampaui legenda seperti Gerd Muller (72 gol pada 1972-73) dan Cristiano Ronaldo (66 gol pada 2011-12 dan 2014-15). Namun, Bayern tersingkir di semifinal Liga Champions oleh Paris Saint-Germain, sehingga Kane tidak bisa mengandalkan gelar Eropa sebagai nilai tambah.

Sejarah modern Ballon d'Or menunjukkan bahwa hanya empat dari 19 pemenang terakhir yang tidak meraih gelar juara Liga Champions, Piala Dunia, Euro, atau Copa America di tahun kemenangan mereka. Pengecualian seperti Lionel Messi (2010, 2012, 2019) dan Cristiano Ronaldo (2013) terjadi karena performa individu yang luar biasa. Kane harus bersaing dengan rival berat seperti Rodri, yang membawa Spanyol juara Piala Dunia dan meraih Golden Ball, serta Kylian Mbappe yang menjadi top skor Piala Dunia dengan 10 gol.

Jika Kane menang, ia akan menjadi orang Inggris kelima yang meraih Ballon d'Or setelah Stanley Matthews, Bobby Charlton, Kevin Keegan, dan Michael Owen. Ia juga akan menjadi pemain pertama dari klub Bundesliga yang meraih trofi sejak Matthias Sammer pada 1996. Namun, voter harus memutuskan apakah 73 golnya lebih berharga dari gelar juara besar yang diraih para pesaingnya.

Kane sendiri tetap rendah hati. "Kita lihat saja nanti," ujarnya saat ditanya tentang peluangnya. Dengan sejarah yang tidak berpihak pada pemain tanpa gelar besar, akankah Kane menjadi pengecualian langka? Hanya waktu yang akan menjawab.