Dunia sepak bola Inggris akhir-akhir ini punya satu pandangan yang nyaris jadi kebenaran mutlak: fans Arsenal dianggap sebagai kelompok pendukung paling menyebalkan. Mulai dari selebrasi berlebihan, aktivitas media sosial yang dianggap kelewat batas, hingga rasa superioritas yang melekat. Fenomena antipati terhadap klub Meriam London ini bahkan melampaui kebencian kepada suporter klub 'Big Six' lainnya.

Dilansir dari FourHorTwo, akar kebencian ini ternyata sudah tumbuh jauh sebelum era media sosial merajai dunia. Pendukung lama Arsenal, Billy Howard-Price, mengenang bagaimana stigma negatif sudah ada sejak era George Graham dengan julukan 'Boring Boring Arsenal' hingga penggunaan jebakan offside di masa lalu. Stigma ini kian diperparah di era modern di bawah komando sang manajer, Mikel Arteta, yang kerap memantik perdebatan suporter netral lewat gaya taktik pragmatis serta gestur pinggir lapangan yang ekspresif.

Faktor terbesar yang melipatgandakan rasa benci suporter lain tentu saja adalah eksposur masif di ruang digital. Kehadiran platform suporter ikonik seperti AFTV yang lahir pada 2012 memberikan panggung tanpa batas bagi emosi pendukung Arsenal. Paparan yang masif membuat suporter mereka terlihat ada di mana-mana, memicu siklus kebencian yang berputar tanpa ujung di dunia maya, mulai dari argumen taktik hingga perdebatan panas antar-fans.

Tidak sedikit pula yang menyoroti pergeseran demografi tribun stadion dan kultur sepak bola urban saat ini. Masuknya gelombang suporter baru dari kalangan kelas menengah perkotaan turut mengubah persepsi publik luar. Sebagian suporter klub rival, seperti dari kubu Liverpool, bahkan menilai kehadiran fans kasual baru ini kerap merusak reputasi suporter tradisional yang lebih paham akar sejarah klub.

Meski demikian, label 'fans paling menyebalkan' ini pada akhirnya merupakan cerminan dari ekosistem sepak bola modern yang dikendalikan oleh algoritma media sosial pencari sensasi. Di tengah budaya digital yang kerap menyingkirkan nuansa objektif dan lebih memilih kegaduhan, citra negatif Arsenal kadung mengakar kuat, terlepas dari apakah hal tersebut sepenuhnya objektif atau sekadar produk dari bisingnya dunia maya.