Jeff Bezos, pendiri Amazon yang tercatat sebagai orang terkaya keempat dunia, tengah dalam pembicaraan lanjutan untuk membeli 30% saham Liverpool melalui konsorsium. Kabar ini memicu beragam reaksi dari para pendukung The Reds, yang masih menyimpan trauma era kepemilikan Tom Hicks dan George Gillette. Nilai investasi yang ditawarkan mencapai £1,35 miliar (sekitar Rp27 triliun), dengan valuasi klub yang melonjak hingga £4,5 miliar (sekitar Rp90 triliun) — 13 kali lipat dari harga beli FSG pada 2010.
Konsorsium yang dipimpin Bezos juga melibatkan Eduardo Saverin, salah satu pendiri Facebook yang memiliki kekayaan sekitar $32 miliar (Rp496 triliun), serta Amit Bhatia, mantan pemilik Queens Park Rangers. Bhatia melepas sahamnya di klub Championship itu pada 21 Juli lalu, yang menurut aturan FA diperlukan untuk menghindari konflik kepemilikan ganda. Langkah ini memperkuat spekulasi keterlibatannya dalam kesepakatan dengan Liverpool.
Fenway Sports Group (FSG) sebagai pemilik mayoritas sejak 2010 telah mengucurkan total sekitar £518 juta (Rp10,36 triliun) untuk membeli klub dan menutup utang. Kini, dengan penjualan 30% saham, FSG akan meraup lebih dari £1 miliar (Rp20 triliun) sambil tetap memegang kendali. Analis keuangan sepak bola Kieran Maguire menyebut ini sebagai "kondisi terbaik dari kedua dunia" bagi FSG, serupa dengan strategi City Football Group yang membuka investasi minoritas.
Meski demikian, para penggemar tidak serta-merta menyambut positif. Spirit of Shankly (SOS), kelompok suporter terbesar Liverpool, menyuarakan kekhawatiran tentang tingkat kendali yang akan dimiliki konsorsium dan uji tuntas yang dilakukan. "Kami ingin tahu apa yang akan mereka dapatkan sebagai imbalan atas 30% saham, apakah mereka akan mendapat kursi di dewan, dan apakah mereka benar-benar peduli pada kepentingan klub atau hanya sekadar 'trophy buy'," ujar juru bicara SOS kepada BBC Sport.
Kekhawatiran juga muncul terkait rekam jejak Amazon dalam perlakuan terhadap pekerja. Laporan Trades Union Congress pada 2020 menyoroti kondisi kerja yang berat di gudang Amazon, dan aksi mogok terjadi di Birmingham pada 2024. Gareth Roberts, podcaster LFC, menegaskan, "Cara Amazon memperlakukan serikat pekerja dan pekerja tidaklah menyenangkan. Apakah dia hanya akan memanfaatkan nama Liverpool untuk meraup keuntungan sebesar mungkin?"
Dari sisi finansial, investasi ini tidak serta-merta mengubah daya beli Liverpool di bursa transfer. Aturan Squad Cost Ratio Premier League membatasi belanja berdasarkan pendapatan komersial, bukan kekayaan pemilik. Maguire menambahkan, "Kesepakatan ini bisa menjadi penjualan saham langsung oleh FSG, sehingga tidak ada dampak finansial bagi klub itu sendiri." Dengan kata lain, meski suntikan dana menguatkan posisi neraca, Liverpool tetap harus mematuhi regulasi keuangan yang berlaku.
Keputusan akhir masih menunggu, namun satu hal pasti: langkah Bezos ini akan menjadi ujian bagi FSG dalam menyeimbangkan kepentingan bisnis dan nilai-nilai komunitas yang dijunjung tinggi oleh para pendukung Liverpool.
KOMENTAR ()
Kamu harus login untuk ikut berdiskusi.
Login Sekarang