Manajer Mikel Arteta akhirnya buka suara terkait langkah kontroversial manajemen Arsenal yang memutuskan memangkas 60 posisi pekerjaan di berbagai departemen klub. Keputusan yang diumumkan oleh Chief Executive Richard Garlick ini praktis berdampak pada sekitar tujuh persen dari total 871 staf tetap, meski dipastikan tidak menyentuh area kepelatihan maupun performa tim utama pria dan wanita.

Badai pemutusan hubungan kerja ini muncul hanya berselang sepekan setelah sang manajer asal Spanyol meneken kontrak baru berdurasi empat tahun. Perpanjangan masa bakti tersebut kabarnya diiringi kenaikan gaji fantastis dari bayaran sebelumnya sebesar 10 juta Poundsterling atau setara Rp200 Miliar per tahun, ditambah bonus senilai 100 Juta Poundsterling yang jika dikonversi mencapai sekitar Rp100 Miliar jika digabungkan dalam kesepakatan secara keseluruhan. Gelombang efisiensi ini juga mengecualikan staf keamanan, Arsenal Foundation, serta program komunitas klub.

Ketika dicecar awak media dalam konferensi pers jelang lawatan akhir pekan ke markas Nottingham Forest, Arteta awalnya sempat mengelak dengan menyatakan bahwa pertanyaan tersebut bukan ranahnya. Namun, ia kemudian memberikan penjelasan bahwa restrukturisasi ini merupakan hasil audit perusahaan eksternal demi mengejar evolusi dan kesuksesan jangka panjang klub. Keputusan diambil agar manajemen bisa terus mengalokasikan investasi secara tepat guna.

Langkah efisiensi di luar lapangan ini terasa kontras jika melihat laporan finansial klub belum lama ini. Merujuk pada catatan finansial musim 2024-2025, klub London Utara tersebut sejatinya sempat meraup rekor pendapatan fantastis hingga menyentuh angka 691 juta Poundsterling atau sekitar Rp13,8 Triliun, meski pada akhirnya tetap membukukan kerugian bersih sekitar 1,4 juta Poundsterling atau setara Rp28 Miliar akibat lonjakan biaya operasional.

Bagi publik tribun Emirates, kebijakan pemangkasan staf demi ambisi prestasi tentu memicu perdebatan tersendiri di tengah gemerlapnya era modern sepak bola Inggris. Tantangan berat kini berada di pundak sang juru taktik untuk membuktikan bahwa pengorbanan di belakang layar ini benar-benar berbuah manis berupa deretan trofi bergengsi di akhir musim.