Keputusan Roberto De Zerbi menunjuk Dominic Solanke sebagai kapten Tottenham Hotspur saat bertandang ke Old Trafford memicu perdebatan panas di kalangan suporter. Di tengah performa lini serang yang angin-anginan, ban kapten yang melingkar di lengan sang penyerang dinilai sebagai perjudian besar yang sulit dimajarkan tribun. Terlebih, kontribusi sang penyerang sepanjang musim ini jauh dari kata memuaskan untuk ukuran pemain berandil besar di klub sebesar Spurs.

Meski Solanke sempat menyelamatkan muka tim lewat sundulan krusial di pengujung laga akhir pekan lalu, statistik penampilannya sama sekali tidak mencerminkan sosok pemimpin di atas lapangan. Sebelum gol tersebut tercipta, ia menyia-nyiakan sejumlah peluang emas di depan gawang lawan. Dilansir dari FourFourTwo, penyerang bernomor punggung 19 itu baru mengemas empat gol dari 19 penampilan liga musim ini, sebuah catatan minor bagi pemain yang diandalkan sebagai juru gedor utama.

De Zerbi berdalih bahwa penunjukan tersebut sengaja dilakukan untuk meredam kritik dan mengangkat kembali mental sang pemain. Namun, langkah ini justru dianggap mencederai perasaan para suporter yang merogoh kocek dalam-dalam demi mendukung tim kesayangan langsung ke Manchester. Masih banyak opsi pemain lain di skuad yang dinilai lebih layak mengenakan ban kapten berdasarkan konsistensi dan pengaruh mereka di ruang ganti.

Masalah utama Solanke bukan sekadar minimnya gol, melainkan buruknya kontribusi dalam duel-duel fisik maupun proses membangun serangan. Catatan menunjukkan ia kesulitan memenangkan duel udara, sering kehilangan penguasaan bola, serta minim menciptakan peluang matang bagi rekan setimnya. Situasi ini membuat lini depan Spurs kerap tumpul dan gagal memaksimalkan peluang yang dibangun dari lini kedua.

Kini, beban berat berada di pundak sang penyerang untuk membuktikan bahwa perjudian sang manajer tidak salah alamat. Gol dramatis ke gawang Manchester United harus menjadi titik balik kebangkitannya musim ini. Jika ia gagal mempertahankan momentum tersebut, keputusan kontroversial ini bakal dikenang sebagai salah satu eksperimen paling gagal di era kepelatihan juru taktik asal Italia tersebut.