Perjalanan karier seorang penyerang kerap diwarnai liku-liku tak terduga, dan hal tersebut sangat dipahami oleh Britt Assombalonga. Sepanjang dekade 2010-an, namanya melejit sebagai salah satu juru gedor paling mematikan di kasta kedua sepak bola Inggris, Championship. Namun, sebelum menjadi mesin gol yang ditakuti, ia harus merangkak dari bawah melalui berbagai jalan terjal.

Setelah mencatatkan debut senior bersama Watford, penyerang timnas Republik Demokratik Kongo ini harus membuktikan ketajamannya lewat masa peminjaman di klub-klub non-liga seperti Wealdstone dan Braintree Town. Kerja kerasnya terbayar lunas ketika tampil tajam bersama Southend United, sebelum akhirnya dibeli permanen oleh Peterborough United di mana ia mencetak 33 gol dalam satu musim penuh.

Catatan impresif tersebut membuka pintu kepindahannya ke Nottingham Forest pada tahun 2014 dengan mahar sekitar Rp100 Miliar (£5 juta). Kepindahan ini terasa jauh lebih emosional karena klub berjuluk The Reds tersebut pernah menolaknya saat ia baru berusia 14 tahun. Alih-alih menyimpan dendam, kegagalan di masa remaja justru memantik tekad besar untuk kembali dan membuktikan kapasitasnya di City Ground.

Dilansir dari FourFourTwo, Assombalonga mengenang kembali momen ketika dirinya pertama kali mencicipi atmosfer luar biasa di markas Forest. "Saya selalu bermimpi untuk kembali dan membuktikan bahwa mereka keliru. Bukan karena saya menaruh benci, tapi saya merasa punya urusan yang belum tuntas di sana," ungkap penyerang yang kini berusia matang tersebut mengenang masa-masa indahnya.

Bagi sang penyerang, membela klub sebesar Forest memberikan kebanggaan tersendiri, terutama saat merasakan sengitnya rivalitas abadi melawan Derby County. Atmosfer stadion yang bergemuruh dan dukungan suporter fanatik membuat masa-masa berseragam Garibaldi merah menjadi salah satu babak paling ikonik dalam perjalanan karier profesionalnya di lapangan hijau.