Ada yang berbeda di sudut utara Italia ketika malam Liga Champions menyapa. Di pinggir Danau Como yang memesona, stadion berkapasitas 12.000 penonton bergemuruh menyambut raksasa Inggris, Manchester United. Klub yang dulunya akrab dengan kasta bawah amatir ini kini menjelma menjadi kekuatan baru yang mendunia, memadukan keindahan panorama alam dengan sentuhan magis di atas lapangan hijau yang digalang oleh Cesc Fabregas.

Perjalanan luar biasa klub milik Djarum Group ini bermula dari ambisi membangun bisnis yang berkelanjutan. Sempat bangkrut dua kali sejak 2003, kebangkitan Como terasa seperti mimpi bagi suporter setianya. Dilansir dari ESPN FC, alih-alih menghindari arus turis, klub justru memanfaatkan daya tarik wisata Danau Como yang mendatangkan jutaan pelancong setiap tahunnya. Hasilnya, stadion mungil di tepi danau kini dipadati penonton dari berbagai belahan dunia yang ingin menikmati sepak bola indah sekaligus berlibur.

Transformasi di bawah kepemilikan Indonesia tidak hanya mendongkrak aspek komersial, tetapi juga melahirkan prestasi gemilang di atas lapangan. Setelah menembus Serie A, Fabregas sukses membawa timnya finis di posisi keempat musim lalu dan mencatatkan sejarah lolos ke Liga Champions untuk pertama kalinya. Mengusung filosofi menyerang yang terinspirasi dari gaya sepak bola Spanyol, Fabregas meramu skuad kompetitif yang membuat lawan-lawan besar kerepotan.

Puncaknya terjadi ketika Como menjamu Setan Merah di tengah terpaan angin dan hujan deras. Di malam paling glamor dalam sejarah klub, bakat muda asal Argentina, Nico Paz, tampil gemilang dan memimpin rekan-rekannya meraih kemenangan telak 4-1 atas wakil Premier League tersebut. Atmosfer Stadion Giuseppe Sinigaglia mendadak menjadi saksi bisu bagaimana sebuah klub kecil mampu membungkam raksasa Eropa dengan penuh percaya diri.

Meski menjelma menjadi magnet pariwisata dan destinasi kaum elit, manajemen tetap menjaga kedekatan dengan suporter lokal yang setia mendampingi sejak era amatir. Tradisi merangkul suporter lama, seperti mengundang mereka mengibarkan bendera Liga Champions sebelum sepak mula, membuktikan bahwa jiwa klub tidak pernah hilang. Di bawah racikan taktik Fabregas dan visi besar kepengurusan klub, keajaiban di pinggir danau ini tampaknya baru saja dimulai.