Januari 2020 menjadi momen paling dilematis dalam lembaran karier Diego Demme. Di satu sisi, ia tengah menikmati musim bersejarah bersama RB Leipzig yang bertengger di puncak Bundesliga serta melaju jauh di Liga Champions. Namun, panggilan dari Napoli mengubah segalanya dalam sekejap. Bukan sekadar tawaran biasa, ini adalah panggilan dari klub yang dicintai mendiang ayahnya—bahkan ia diberi nama depan sesuai legenda Diego Maradona.
Keputusan meninggalkan zona nyaman di Jerman menuju Italia bukanlah hal mudah. Saat itu, Partenopei sedang berada dalam situasi karut-marut akibat konflik internal pemain dengan manajemen klub. Carlo Ancelotti kehilangan kendali ruang ganti, meninggalkan warisan skuad yang rapuh di peringkat kedelapan Serie A. Masuklah Gennaro Gattuso sebagai juru selamat yang langsung merombak fondasi tim demi mengembalikan martabat klub selatan Italia tersebut.
Bagi Demme, dilatih oleh Gattuso bagaikan mimpi yang menjadi nyata. Semasa kecil, ia mengidolakan sosok gelandang petarung tersebut dan kini sang idola memintanya langsung untuk menjadi jenderal di lini tengah. Dilansir dari FourFourTwo, ia mengenang betapa magisnya sentuhan sang pelatih sebelum pertandingan dimulai. Pelukan hangat dari Gattuso sebelum sepak mula memberikan suntikan motivasi luar biasa untuk berlari dan bertarung habis-habisan di atas lapangan hijau.
Kedatangan gelandang berdarah Jerman-Italia ini langsung berdampak instan di lini sentral. Dengan mahar kepindahan sekitar Rp240 Juta hingga Rp300 Juta, Demme membayar tuntas kepercayaan tersebut dengan membawa Napoli menjuarai Coppa Italia usai menyingkirkan tim-tim kuat. Ia menjadi kepingan puzzle penting yang mengakhiri puasa gelar domestik klub, sekaligus meletakkan batu loncatan bagi era kejayaan di bawah kendali pelatih-pelatih berikutnya hingga meraih Scudetto.
Meskipun akhirnya harus meninggalkan Naples dan menyaksikan dari jauh ketika klub kembali merajai Italia, jasa Demme tidak akan pernah terlupakan. Di bawah arahan Gattuso, klub yang tadinya limbung perlahan kembali disegani kancah sepak bola Eropa. Fondasi mentalitas baja yang ditanamkan sang allenatore terbukti menjadi akar kesuksesan jangka panjang bagi perjalanan Partenopei di kasta tertinggi Liga Italia.
KOMENTAR ()
Kamu harus login untuk ikut berdiskusi.
Login Sekarang