Menjadi presiden klub sepak bola bagi kebanyakan orang mungkin adalah impian yang penuh kemewahan dan sorotan kamera. Namun, tidak demikian yang dirasakan oleh Fernando Roig. Memasuki tahun ke-30 memimpin Villarreal—masa jabatan terlama di antara klub-klub Eropa saat ini—ia justru mengaku tidak pernah benar-benar menikmati jalannya pertandingan di atas lapangan hijau. Lebih dari 1.000 pertandingan telah ia saksikan, tetapi perasaan cemas, khawatir, dan penderitaan batin selalu mendominasi setiap kali peluit kick-off dibunyikan.

Perjalanan panjang ini bermula pada Mei 1997 ketika ia mengambil alih klub yang saat itu tengah berjuang dari kebangkrutan dengan warisan utang mencapai sekitar Rp1,6 Triliun (berdasarkan kurs €80 juta). Dengan populasi kota yang hanya dihuni sekitar 52.000 jiwa, membangun sebuah kekuatan baru di kasta tertinggi terasa seperti misi yang mustahil. Roig mengenang bagaimana mereka dulunya bahkan tidak memiliki tempat latihan yang layak dan harus berlatihan di sebidang rumput sembarangan sebelum akhirnya menjelma menjadi kekuatan yang diperhitungkan di kancah domestik maupun Eropa.

Dilansir dari The Guardian, investasi masif yang digelontorkan Roig, yang konon mencapai sekitar Rp3,4 Triliun (£180 juta) untuk fasilitas latihan dan renovasi stadion, terbayar lunas lewat deretan prestasi gemilang dan pencapaian akademi yang luar biasa. Klub berjuluk Kapal Selam Kuning ini menjelma menjadi tempat lahirnya para bintang lapangan hijau dunia, termasuk gelandang andalan Manchester City dan peraih Ballon d'Or, Rodri, yang sempat menimba ilmu di akademi mereka sebelum melangkah jauh ke panggung elite sepak bola internasional.

Meski kini manajemen operasional harian telah diserahkan kepada sang anak selaku chief executive, beban mental dan tekanan psikologis saat menonton pertandingan tetap tidak berubah bagi sang pemilik. Puncak kepedihan emosionalnya terjadi ketika ia terpaksa melewatkan laga final Liga Europa 2021 karena terjangkit Covid-19, memaksa dirinya menyaksikan momen bersejarah tersebut melalui layar televisi di rumah sementara timnya meraih trofi mayor pertama mereka.

Bagi Roig, semua rasa sakit, stres, dan penderitaan selama 90 menit pertandingan terbayar lunas ketika laga usai dan melihat masyarakat serta warga kota kecil tersebut merasa bangga dengan perjuangan tim kesayangan mereka. Menjaga kestabilan finansial klub tanpa harus bergantung pada suntikan dana negara atau taipan luar negeri tetap menjadi fondasi utama, di mana target realistis tahunan selalu dimulai dengan mengamankan 42 poin demi bertahan di kasta tertinggi Liga Spanyol.