Karier kepelatihan Michael Laudrup memang dihiasi cerita luar biasa, mulai dari kesuksesannya bersama Brondby hingga membawa Getafe menembus final Copa del Rey. Namun, puncak pencapaian manajerialnya di sepak bola Inggris tentu terjadi ketika ia menakhodai Swansea City pada tahun 2012.
Dilansir dari FourFourTwo, pria asal Denmark ini sukses menerapkan gaya sepak bola berbasis penguasaan bola yang atraktif meski menangani klub yang baru mencicipi kasta tertinggi Liga Inggris. Sebelum merapat ke Stadion Liberty sebagai pengganti Brendan Rodgers, filosofi taktik Laudrup telah teruji lewat torehan apik di kompetisi piala domestik maupun Eropa dengan sumber daya pemain yang sangat terbatas.
Momen paling monumental bagi Swansea City tentu saja ketika mereka melaju ke Stadion Wembley pada final Piala Liga Inggris 2013. Tanpa rasa gentar, The Swans membantai klub divisi keempat Bradford City dengan skor telak 5-0 sekaligus merengkuh trofi mayor pertama sepanjang sejarah klub yang berdiri sejak tahun 1912 tersebut.
“Itu adalah trofi mayor pertama dalam sejarah mereka, dan siapa yang tahu kapan mereka akan memenangkannya lagi,” kenang Laudrup kepada FourFourTwo. Perjalanan menuju tangga juara sama sekali tidak mudah, mengingat timnya harus menyingkirkan raksasa Premier League seperti Chelsea di semifinal dan Liverpool di Anfield.
Sayangnya, kisah manis tersebut harus berakhir pahit ketika manajemen klub memecatnya pada Februari 2014 menyusul penurunan performa tim di liga. Meski sempat mendapat tawaran untuk kembali ke kursi kepelatihan beberapa tahun berselang, Michael Laudrup memilih menolaknya karena meyakini bahwa nostalgia masa lalu tidak akan pernah bisa mengulang keajaiban yang sama persis.
KOMENTAR ()
Kamu harus login untuk ikut berdiskusi.
Login Sekarang