Mari mundur sejenak dan bayangkan betapa surealisnya situasi yang harus dihadapi oleh klub Ukraina, Shakhtar Donetsk. Mereka terpaksa menjamu klub asal Yunani, AEK Athena, di kota London, tepatnya di markas Chelsea yaitu Stamford Bridge, dalam ajang kompetisi elite Eropa.
Secara administratif pertandingan ini tercatat sebagai laga kandang, namun konsep tersebut sudah lama kehilangan makna aslinya. Klub tidak pernah lagi bermain di kandang kebanggaan mereka, Donbas Arena, sejak Mei 2014 silam akibat konflik berkepanjangan yang melanda wilayah asal mereka.
Direktur olahraga klub, yang juga mantan pemain Dario Srna, menegaskan bahwa skuad ini membawa misi yang jauh melampaui urusan teknis di atas lapangan hijau. Mereka kini bertindak sebagai simbol perlawanan dan upaya menjaga kewarasan di tengah terjangan perang yang telah merenggut ratusan ribu nyawa manusia.
Dilansir dari ESPN FC, kehidupan sehari-hari klub dipenuhi oleh absurditas yang menormalisasi keadaan darurat. Mulai dari suporter lawan yang mendominasi atmosfer stadion hingga para pemain yang harus menempuh perjalanan melelahkan kembali ke Ukraina menggunakan bus demi melakoni liga domestik.
Di balik ketahanan luar biasa tersebut, terdapat sokongan dana dari sang pemilik kaya raya yang memilih tetap tinggal di negara yang sedang berkonflik. Tantangan demi tantangan terus datang silih berganti, termasuk persiapan mereka menyambut raksasa Spanyol di stadion yang sama pada akhir Januari mendatang.
KOMENTAR ()
Kamu harus login untuk ikut berdiskusi.
Login Sekarang