Dunia sepak bola era 1970-an menyimpan banyak cerita magis tentang para pemain bergaya urakan namun dicintai suporter di tribun. Rambut keriting panjang yang tergerai di atas kerah, cambang lebat, kumis tebal, hingga jersey yang sengaja dikeluarkan dari celana menjadi ciri khas ikonik dari seorang Alfie Conn. Sosok asal Skotlandia ini menjelma sebagai lambang pemain berjiwa rock 'n' roll di lapangan hijau, menyerap tren mode populer saat itu langsung ke tribun stadion.

Ketika didatangkan Tottenham Hotspur dari Rangers pada tahun 1974 dengan mahar sekitar Rp2,8 Miliar, kehadirannya langsung menggantikan figur Alan Gilzean di hati para pendukung. Tak butuh waktu lama bagi suporter di White Hart Lane untuk menyematkan pujian tertinggi dengan menyamakannya dengan sang ikon George Best. Dilansir dari FourFourTwo, gaya bermainnya yang penuh keberanian dan tanpa beban membuat namanya dengan cepat diabadikan dalam bentuk grafiti bertuliskan Alfie Conn is God di sudut-sudut London utara.

Di balik penampilan flamboyannya, perjalanan hidup Conn diwarnai tragedi kelam, termasuk bencana Ibrox pada Januari 1971 yang merenggut nyawa 66 pendukung Rangers. Ia bahkan sempat merengkuh trofi Piala Winners Eropa 1972 bersama Rangers di tengah kekacauan invasi suporter di Camp Nou. Kepindahannya ke Liga Inggris sempat diwarnai drama salah paham karena ia mengira akan bergabung dengan Manchester United asuhan Tommy Docherty, sebelum akhirnya disambut oleh asisten manajer Eddie Baily di London.

Momen paling dikenang publik White Hart Lane terjadi ketika ia berani duduk di atas bola untuk memprovokasi pemain Leeds United dalam laga krusial menghindari degradasi. Aksi usil tersebut sempat membuat kiper legendaris Pat Jennings menggelengkan kepala karena khawatir timnya justru terkena hukuman mental dari lawan. Beruntung, kemenangan 4-2 memastikan Spurs selamat dari ancaman turun tangga, meski kemudian kisah manisnya bersama klub London tersebut harus berakhir akibat perbedaan visi dengan manajer baru.

Keputusan paling berani dalam kariernya tentu saja ketika ia menerima pinangan Jock Stein untuk menyeberang ke rival abadi Rangers, yakni Celtic. Sebagai pemain pertama yang melintasi jurang pemisah Old Firm pasca-Perang Dunia Kedua, Conn harus membayar harga mahal berupa hubungan renggang dengan sejumlah rekan terdekatnya. Meski kariernya kemudian meredup hingga hijrah ke Amerika Serikat, namanya tetap abadi di benak publik White Hart Lane sebagai pahlawan kultural yang tak lekang oleh zaman.