Dunia sepak bola Inggris tidak pernah kekurangan figur eksentrik, dan salah satu yang paling dikenang adalah kisah dari Leyton Orient pada era 1990-an. Ketika pengusaha ternama Barry Hearn memutuskan membeli klub yang tengah tenggelam dalam lilitan utang tersebut pada 1995, ia sama sekali tidak menyangka akan mendapati drama ruang ganti yang begitu liar. Dilansir dari FourFourTwo, Hearn mengaku hanya merogoh kocek sekitar Rp48.600 untuk mengambil alih klub, meski harus menanggung beban utang mencapai sekitar Rp40 Miliar.
Kehadiran kamera dokumenter Channel 4 kala itu merekam seluruh kekacauan internal yang terjadi di klub. Di pusat badai tersebut berdiri sang manajer, John Sitton, yang emosinya meledak-ledak di ruang ganti saat timnya tertinggal dari Blackpool. Momen ketika Sitton memecat pemain secara langsung dan menantang skuadnya untuk berkelahi sambil membawa makan malam telah menjadi bagian dari cerita rakyat sepak bola Inggris yang paling ikonik sepanjang masa.
Meskipun kemarahan frontal tersebut mengejutkan banyak penonton, Hearn justru mengenangnya dengan senyuman lebar. Ia bahkan sering mengutip kalimat ikonik sang pelatih dalam berbagai kesempatan santai. Bagi seorang promotor ulung seperti Hearn, drama dan sorotan media semacam itu sempat membantunya mendatangkan atensi publik yang masif ke klub yang tengah berjuang di papan bawah liga.
Kendati demikian, batas profesionalisme tetap harus ditegakkan ketika insiden di luar batas mulai terlihat dalam sesi latihan tim. Hearn menceritakan bagaimana dirinya menyaksikan Sitton melumpuhkan seorang pemain berusia 16 tahun secara kasar di tempat latihan, sebuah tindakan yang membuatnya sadar bahwa metode sang pelatih sudah tidak lagi sejalan dengan nilai integritas yang ingin dibangun di dalam klub.
Keputusan pahit akhirnya harus diambil oleh jajaran manajemen demi kebaikan jangka panjang klub yang bermarkas di stadion bersejarah tersebut. Sitton akhirnya diberhentikan dari jabatannya, menutup babak penuh kekalutan namun menghibur dalam sejarah sepak bola Inggris yang hingga kini masih sering diperbincangkan para pecinta bola di tribun.
KOMENTAR ()
Kamu harus login untuk ikut berdiskusi.
Login Sekarang