Kisah kebangkitan Viking Stavanger di kancah sepak bola Eropa memang layak mendapat sorotan tajam. Bagaimana tidak, klub asal Norwegia ini mampu melesat dari bayang-bayang mediokritas menuju panggung elit Liga Champions berkat tangan dingin dua sahabat karib yang mengusung peran pelatih kepala ganda. Morten Jensen dan Bjarte Lunde Aarsheim sukses mentransformasi klub yang bermarkas di Lyse Arena ini menjadi kekuatan baru yang disegani, membuktikan bahwa kerja sama tak lazim di pinggir lapangan bisa berbuah manis.
Perjalanan luar biasa ini bermula dari obrolan telepon santai pada 2012 silam antara dua sosok dengan latar belakang kontras. Aarsheim merupakan legenda hidup klub yang semasa aktif bermain dikenal sebagai gelandang berkelas dan kapten panutan, sementara Jensen sempat merumput di Amerika Serikat sebelum berkecimpung di divisi bawah Liga Norwegia. Saat menjalani wawancara untuk kursi kepelatihan pada November 2020 lalu, keduanya datang bukan dengan keraguan, melainkan sebuah dokumen setebal 120 halaman lengkap dengan presentasi visual metafora serigala dan domba untuk meyakinkan sang CEO Eirik Bjørnø serta direktur olahraga Manchester United dan Fulham di masa lalu, Erik Nevland.
Filosofi kepelatihan mereka terbukti ampuh mendongkrak mentalitas skuad asuhannya. Musim lalu, mereka berhasil memutus dominasi Bodø/Glimt untuk merengkuh trofi Eliteserien, sebuah pencapaian prestisius mengingat Viking terakhir kali merasakan manisnya gelar juara liga pada tahun 1991 silam. Di bawah arahan mereka, para pemain muda lokal ditempa bukan hanya sekadar menjadi pesepak bola profesional, melainkan didorong untuk memimpikan target tertinggi tanpa batas.
Dampak masif dari kebangkitan klub berjuluk Dark Blue ini juga dirasakan langsung oleh masyarakat setempat di kota pelabuhan tersebut. Jensen mengungkapkan kebanggaan terbesar mereka bukanlah sekadar trofi atau tiket Liga Champions, melainkan pemandangan anak-anak kecil di sekolah yang kini bangga mengenakan jersey Viking, alih-alih atribut klub luar negeri. Hal ini menunjukkan betapa besarnya ikatan emosional antara tim, jajaran pelatih, dan para pendukung setianya.
Kini, ujian sesungguhnya menanti saat mereka bersiap menghadapi raksasa Bundesliga, Bayern Munich, dalam laga kandang perdana di kompetisi elit Benua Biru. Meski menyandang status sebagai underdog di hadapan raksasa Jerman tersebut, mentalitas baja dan rasa kekeluargaan yang kental di dalam ruang ganti menjadi modal utama pasukan Jensen dan Aarsheim untuk kembali menuliskan sejarah baru yang membanggakan di kancah internasional.
KOMENTAR ()
Kamu harus login untuk ikut berdiskusi.
Login Sekarang