Pemerintah South Korea akhirnya memutuskan untuk meninjau ulang aturan pembebasan wajib militer bagi para atlet berprestasi. Keputusan ini diambil menyusul badai kritik yang menerpa skuad sepak bola nasional setelah merajai ajang Asian Games dengan mengamankan total 39 medali emas, 43 perak, serta 68 perunggu.

Kontroversi bermula ketika kapten Lee Gi-hyuk bersama rekan-rekan setimnya merayakan kemenangan dramatis atas tuan rumah Jepang di partai final. Alih-alih merayakan prestasi olahraga semata, sang kapten justru memicu kemarahan publik setelah dengan terang-terangan berteriak bahwa dirinya tidak jadi berangkat wajib militer berkat medali emas tersebut.

Sebagai informasi, setiap pria di negara tersebut wajib menjalani masa dinas militer aktif selama 18 hingga 21 bulan sebelum menginjak usia 28 tahun. Selama ini, pemerintah memberikan keistimewaan berupa pembebasan wamil—hanya menyisakan latihan dasar di bawah sebulan—khusus bagi peraih medali emas Asian Games serta peraih medali Olimpiade.

Menteri Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Choi Hwi-young secara terbuka menyebut komentar sang kapten sebagai tindakan yang sangat tidak matang. Dalam rapat dengar pendapat di Majelis Nasional, ia menyatakan bahwa sistem yang telah berjalan lebih dari setengah abad ini sudah tidak sejalan dengan rasa keadilan masyarakat modern dan harus segera dikurangi skalanya.

Politisi oposisi Cho Kye-won turut mempertegas tekanan politik tersebut dengan membeberkan data timpang, di mana dari 44 atlet yang mendapat keistimewaan wamil di Asian Games kali ini, 36 orang berasal dari cabang sepak bola dan bisbol. Situasi ini dinilai memicu ketidakadilan bagi atlet cabang lain yang bahkan harus membanting tulang menjadi juara dunia tanpa diganjar fasilitas serupa.