Siklus kegagalan yang terus menelan setiap manajer Manchester United sejak kepergian Sir Alex Ferguson kini menjerat Michael Carrick. Sang pelatih harus menghadapi kenyataan pahit usai kekalahan telak di Liga Champions, yang langsung memicu permintaan maaf terbuka kepada para suporter di tribun. Situasi ini mengingatkan publik pada akhir era Ole Gunnar Solskjaer, menandai betapa rapuhnya kursi kepelatihan di Old Trafford dalam satu dekade terakhir.
Sejak 2013, manajemen klub telah mencoba berbagai cara untuk mengembalikan kejayaan masa lalu. Mulai dari juru taktik berpengalaman seperti Louis van Gaal dan Jose Mourinho, hingga nama-nama berprospek seperti Erik ten Hag. Namun, semuanya berujung pada pemecatan yang menyisakan tanda tanya besar mengenai arah kebijakan klub. Tekanan kini tidak hanya jatuh kepada pelatih di pinggir lapangan, tetapi juga kepada jajaran petinggi seperti Sir Jim Ratcliffe yang memegang kendali operasional.
Gejolak internal juga mulai terbuka ke permukaan tatkala para pemain bintang melontarkan kritik tajam terhadap taktik maupun manajemen klub. Ketidakpuasan ini mencerminkan retakan mendalam di ruang ganti yang semakin memperburuk moral tim secara keseluruhan. Konversi beban finansial dan utang klub yang dilaporkan masih menyentuh angka sekitar Rp20 Triliun turut menjadi sorotan di tengah ambisi pembangunan stadion baru bernilai fantastis.
Di bawah bayang-bayang instabilitas struktural, Bruno Fernandes dan rekan-rekan harus berjuang membalikkan situasi di tengah sorotan tajam suporter. Kegagalan demi kegagalan dalam mengambil keputusan strategis membuat pamor Setan Merah sebagai destinasi utama pemain dan pelatih top dunia mulai memudar. Tanpa adanya pembenahan fundamental dari pucuk pimpinan, klub dikhawatirkan akan semakin tertinggal dari para rival abadi mereka di kasta tertinggi.
KOMENTAR ()
Kamu harus login untuk ikut berdiskusi.
Login Sekarang