Badai besar kembali menghantam Manchester United di tengah performa tim yang kian mengkhawatirkan dan terpuruk di papan bawah Premier League. Klub pengoleksi gelar juara Inggris ini menjelma menjadi kapal pecah tanpa arah jelas, sementara sosok yang memegang kendali penuh justru memilih bungkam dan menghilang dari radar publik Old Trafford. Dilansir dari ESPN FC, keluarga Glazer selaku pemilik mayoritas sama sekali tidak menampakkan batang hidung mereka ketika badai kritik menerpa dari segala penjuru tribun penonton.
Situasi pelik ini tak lepas dari perjanjian yang diteken pada Februari 2024 silam, di mana keluarga Glazer menyerahkan kendali operasional sepak bola kepada investor minoritas, Sir Jim Ratcliffe, usai merogoh kocek senilai £1,5 Miliar atau setara dengan sekitar Rp30 Triliun untuk kepemilikan saham sebesar 28%. Alih-alih membangkitkan kejayaan klub, langkah-langkah yang diambil Ratcliffe justru membawa Setan Merah masuk ke dalam pusaran krisis yang semakin dalam, membuat posisi tim kini hanya terpaut dua angka saja dari zona degradasi.
Gelombang protes suporter mengalir deras, terutama setelah kekalahan telak 0-3 dari Bournemouth yang memperlihatkan betapa rapuhnya lini pertahanan dan mentalitas bertanding skuad asuhan Erik ten Hag di lapangan. Sejumlah sumber dalam klub yang berbicara kepada ESPN FC menyebutkan bahwa Ratcliffe justru melakukan penurunan kualitas di berbagai departemen, jauh dari janji-janji manis restorasi klub yang sempat didengungkan saat pertama kali datang mengambil alih tampuk kekuasaan operasional harian.
Meskipun demikian, keluarga Glazer yang menguasai hampir 72% saham klub tetap memegang kendali penuh atas potensi penjualan masa depan berkat klausul khusus dalam perjanjian mereka. Namun, di tengah merosotnya nilai saham klub di Bursa Efek New York hingga menyentuh angka USD 20,61 per lembar dari nilai sebelumnya yang mencapai USD 33, para pemilik asal Amerika Serikat tersebut dikabarkan masih menahan diri sembari menunggu momentum paling tepat untuk melepas kepemilikan mereka secara total.
Di sisi lain, masa depan klub kini berada dalam ketidakpastian yang mencekam akibat kebijakan efisiensi ketat yang diterapkan Ratcliffe, termasuk pemotongan anggaran gaji, transfer pemain, hingga pemutusan hubungan kerja bagi ratusan staf di balik layar. Para pendukung setia tentu tidak akan pernah melupakan warisan utang menumpuk peninggalan keluarga Glazer sejak pengambilalihan kontroversial dua dekade lalu, namun absennya mereka saat klub terbakar dalam krisis justru mempertegas betapa jauhnya jarak antara pemilik dan denyut nadi suporter di tribun.
KOMENTAR ()
Kamu harus login untuk ikut berdiskusi.
Login Sekarang