Korea Selatan kembali diterpa badai besar. Setelah kegagalan tim nasional di Piala Dunia 2026 yang memicu kemarahan publik, kini asosiasi sepak bola negeri Ginseng (KFA) harus berhadapan dengan skandal lama yang kembali mencuat: dugaan pembayaran untuk 'hiburan seksual' bagi wasit asing.

Laporan dari Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Korea Selatan yang disusun pada 2016 dan baru dipublikasikan pekan lalu oleh media lokal JTBC mengungkap temuan mengejutkan. KFA disebut menggunakan kartu kredit asosiasi untuk membayar 'hiburan seksual' di panti pijat bagi wasit asing yang bertugas di negara itu pada awal 2010-an.

Total pembayaran mencapai 5,6 juta won (sekitar Rp35 juta) yang dilaporkan sebagai biaya makan, minum, atau pijat. Padahal, uang itu diduga digunakan untuk 'layanan seksual' bagi wasit yang memimpin pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2014 dan Olimpiade London 2012, di mana Korea Selatan berpartisipasi. Seorang pejabat KFA bahkan menyebut praktik itu 'biasa terjadi pada masa itu'.

Dalam pernyataan resminya, KFA menyampaikan permohonan maaf mendalam atas 'berbagai kontroversi' yang terjadi. Mereka juga menegaskan bahwa praktik tidak pantas seperti itu tidak terjadi saat ini. Namun, pengakuan ini semakin memperdalam krisis yang melanda sepak bola Korea Selatan, terutama setelah Hong Myung-bo dan presiden KFA Chung Mong-gyu mengundurkan diri pada musim panas ini.

Kemarahan publik semakin memuncak setelah tersiar kabar bahwa penyelidikan polisi terhadap KFA, yang sebelumnya berfokus pada dugaan 'penghalangan bisnis' terkait penunjukan Hong, dapat diperluas untuk mencakup skandal seksual ini. Seorang pejabat kepolisian menyatakan akan meninjau ulang kasus tersebut, mengingat batas waktu 15 tahun untuk banyak kejahatan di Korea Selatan masih berlaku.

Di sisi lain, laporan media Jepang menyebut Asosiasi Sepak Bola Jepang (JFA) tengah menyelidiki dugaan keterlibatan beberapa wasitnya. BBC Sport telah menghubungi KFA dan JFA untuk meminta komentar, namun belum ada tanggapan. Kursi pelatih kepala timnas pun masih kosong, sementara Park Ji-sung—mantan kapten timnas—merekomendasikan perluasan hak pilih dalam pemilihan presiden KFA menjadi sekitar 20.000 orang, termasuk pemain semi-profesional.

Skandal ini menjadi pukulan telak bagi reputasi sepak bola Korea Selatan, yang tengah berusaha bangkit dari keterpurukan. Para penggemar menuntut reformasi total, dan publik menanti langkah nyata KFA untuk membersihkan diri dari jerat skandal yang tak kunjung usai.