Dunia sepak bola internasional kembali dihebohkan oleh suara kritis dari jurnalis investigasi asal Prancis, Romain Molina. Sosok yang kerap membongkar kasus besar di media-media ternama Eropa ini melayangkan protes keras terhadap Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC). Sorotan tajam itu tertuju pada keputusan kontroversial AFC yang memasukkan Asosiasi Sepak Bola Malaysia (FAM) ke dalam daftar nomine peraih penghargaan Association of the Year.
Keputusan tersebut sontak mengundang keheranan publik mengingat rekam jejak FAM baru saja tercoreng. Otoritas sepak bola Malaysia tersebut dinyatakan bersalah atas kasus pemalsuan data kewarganegaraan terhadap tujuh pemain naturalisasi mereka. Situasi ini membuat pencalonan penghargaan tersebut dinilai mencederai sportivitas dan integritas kompetisi yang seharusnya dijunjung tinggi oleh setiap federasi di bawah naungan AFC.
Melalui akun media sosial pribadinya, Molina secara terbuka mengecam langkah konyol federasi tertinggi Asia ini. Ia mempertanyakan bagaimana mungkin sebuah asosiasi yang terbukti melakukan pelanggaran hukum dan aturan bisa bersaing memperebutkan predikat terbaik. Bagi sang jurnalis investigasi, langkah ini seolah memberikan lampu hijau dan melegitimasi tindakan korupsi serta pelanggaran regulasi di dalam tubuh sepak bola modern saat ini.
Gelombang kritik ini bukan tanpa dasar yang kuat menyusul keputusan Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) pada 5 Maret lalu. Pengadilan arbitrase secara tegas menolak banding yang diajukan oleh FAM sekaligus menjatuhkan hukuman denda sebesar CHF350 ribu atau setara dengan sekitar Rp7,6 miliar. Kasus ini melibatkan tujuh pemain naturalisasi yaitu Facundo Garces, Rodrigo Holgado, Imanol Machuca, Joao Figueiredo, Gabriel Palmero, Jon Irazabal, dan Hector Hevel.
Selain denda finansial, CAS juga memodifikasi sanksi larangan bermain selama 12 bulan bagi para pemain yang terlibat dalam pemalsuan data tersebut. Kendati sanksi hanya berlaku untuk laga kompetitif resmi, hukuman itu menegaskan adanya pelanggaran serius yang dilakukan. Ironisnya, sanksi tegas dari badan peradilan olahraga tertinggi itu seakan tidak memberikan efek jera atau pertimbangan moral bagi AFC dalam merilis daftar nomine penghargaan prestisius mereka.
KOMENTAR ()
Kamu harus login untuk ikut berdiskusi.
Login Sekarang