Industri sepak bola wanita kini sedang melaju kencang menuju status sebagai sektor bernilai miliaran dolar. Namun, di balik kemegahan kompetisi seperti di Real Madrid dan Barcelona, realitas pahit justru dirasakan oleh sebagian besar pesepak bola profesional di seluruh dunia yang masih harus berjuang dengan upah minim dan kontrak tidak aman.

Berdasarkan survei global terbaru yang melibatkan lebih dari 800 pemain oleh federasi pemain internasional Fifpro, sebanyak 59 persen responden mempertimbangkan untuk pensiun dini karena alasan finansial. Tidak hanya masalah dompet, tekanan psikologis juga melonjak drastis dari 13 persen pada 2017 menjadi 46 persen dalam laporan teranyar ini, memicu kekhawatiran serius di kalangan pengamat.

Kepala Sepak Bola Wanita Fifpro, Alex Culvin, menyoroti bagaimana lonjakan popularitas dan eksposur publik justru menjadi beban tambahan bagi para atlet. Pemain dituntut tampil maksimal dan wajib menjaga visibilitas media sosial mereka, yang kerap kali berujung pada paparan pelecehan online tanpa adanya sistem dukungan kesehatan mental yang memadai dari klub maupun tingkat internasional.

Dari sisi kesejahteraan kontrak kerja, laporan menunjukkan bahwa rata-rata gaji bulanan memang meningkat secara global. Sebagai contoh, rata-rata gaji di Amerika Serikat mencapai sekitar Rp100 Juta per bulan, sementara di Eropa Timur rata-rata pendapatan pemain masih berada di kisaran Rp13 Juta, bahkan di bawah upah minimum nasional di beberapa negara.

Masalah lain yang mengiringi industri ini adalah durasi kontrak yang pendek serta keterlambatan pembayaran gaji yang dialami oleh seperempat pemain dalam dua musim terakhir. Banyak pemain hanya diikat kontrak selama tujuh hingga sembilan bulan, memaksa mereka mencari pekerjaan tambahan demi menyambung hidup di sisa tahun kalender.

Kendati demikian, secercah harapan hadir dari regulasi kepemangkaan atau maternitas yang diperkenalkan oleh FIFA sejak 2021. Berkat aturan tersebut, kekhawatiran pemain perempuan yang ingin membangun keluarga turun drastis dari hampir separuh responden pada masa lalu menjadi 19 persen saat ini.