Pembalap Ferrari Lewis Hamilton memanfaatkan panggung olahraga balap jet darat untuk melontarkan seruan kemanusiaan global. Sikap tegas tersebut disampaikannya di sela persiapan Grand Prix Amerika Serikat menyusul sorotan terhadap agenda balapan.

Juara dunia tujuh kali itu menilai bahwa agenda olahraga internasional tidak boleh mengabaikan berbagai konflik sosial serta pelanggaran hak asasi manusia yang sedang berlangsung di berbagai belahan dunia. Dalam pernyataannya, ia dengan lantang menyuarakan pembebasan bagi sejumlah wilayah yang tengah dilanda krisis kemanusiaan mendalam.

"Saya pikir kita perlu memastikan bahwa kita terus mendorong untuk membebaskan Kongo, membebaskan Sudan, membebaskan Suriah, membebaskan Palestina. Saya berharap ada banyak perdamaian yang pada suatu saat nanti bisa kita capai," ujar Hamilton dikutip dari laporan MotorBiscuit.

Pernyataan ini muncul ketika penunjukan Rwanda sebagai tuan rumah balapan mendapat sorotan tajam dari kelompok hak asasi manusia Amnesty International. Negara tersebut disorot atas dugaan keterlibatan militer serta pelanggaran dalam konflik wilayah di Republik Demokratik Kongo yang memicu perdebatan luas di kalangan publik.

Pembalap berusia 41 tahun itu menegaskan bahwa kehadiran ajang balap di benua Afrika tidak boleh mengalihkan perhatian publik dari persoalan krusial yang ada. Ia mendorong masyarakat dunia untuk lebih aktif mempelajari sejarah panjang serta dinamika politik kawasan tersebut demi memahami situasi yang sebenarnya terjadi.